Kita & “Tetangga Sebelah”

Persaudaraan“… Tapi kan ini lebaran, Pa. Ucok kan non-muslim”
“Ucok itu protestan, bukan non-muslim”
“Eh??”
“Ya dijamulah, mereka Tetangga-mu”

Sekedar kutipan percakapan di masa lalu. Pada saat itu saya bahkan belum faham kalau nama Ucok [ dan adiknya; Butet ] bukanlah nama sebenarnya. Terjadilah proses dekonstruksi pada salah satu istilah beliau yang saya fikir memang mengandung sesuatu yang tersirat, ‘Tetangga‘. Istilah yang lambat laun mulai mempengaruhi diri dalam menyusun kategori ‘folder – folder’ imajiner, misal ; Folder ‘Keluarga’ [ Ibnu Shina, Nabi Khidir a.s, puisi Rumi, dongeng Abu Nawas, ilmu usululudin ], dan folder ‘Tetangga’ [ Mahtma Gandhi, Lao Tzu, teori Anussati Bhavana, Neo-platoisme ] yang ternyata, keduanya-pun tergabung dalam folder ‘Inspire’. Menangkap sesuatu? Istilah tetangga-pun seringkali ter-lafalkan menjadi ‘Tetangga Sebelah’ dengan logika ; Posisi bersebelahan merupakan kondisi tanpa label superioritas. Lantas ada apa dengan kita & ‘Tetangga Sebelah’? Lets thinkin..

Landasan Teori..

Terinspirasi dari kejailan Derida saat membongkar strukturalisme. Menurutnya mustahil mencapai kebenaran/makna tunggal (hanya dengan) melalui asumsi-asumsi logosentrisme, sehingga lahirlah teori pembacaan filsafat secara sastrawi yang menjadi teori  dekonstruksi [ ala Derrida ] yang terilhami oleh dekonstruksi [ Nietzsche, Freud dkk ] terdahulu. Filsafat Plato dengan berlandaskan tirani rasio selalu menyingkirkan segala hal yang berkaitan dengan bahasa figuratif, nyatanya, kebenaran makna adalah relatif, bermetafora dan selalu bergeser – Nietchze. Derrida melihat paradigma metodologis strukturalisme memungkinkan terjadinya peng-oposisian ( oposisi biner ) antara dua term yang diperlawankan. Suatu terma bisa saja menjadi lebih superior dibanding terma lain karena akan selalu mencipta makna yang hadir ( namun ) tersembunbyi. Derida menyebutnya ‘metafisika kehadiran

Well, kita sederhanakan. Dalam sebuah struktur oposisi biner ideal, segala sesuatu ( makna ) di kategorikan O dan X. terma O tidak akan eksis dengan sendirinya tanpa berhubungan secara struktural dengan X. O menjadi masuk akal jika ( dan hanya jika ) karena dia bukan kategori X. Contohnya ; positif pasti tidak negatif, kondisi hidup [ karena ] tidak mati, [ subjektifitas ] rasa panas (hot) karena tidak dingin, bukan dikatakan privat karena bersifat publik, Seseorang adalah laki- laki maka bukan perempuan < kondisi setengah – setengah sebaiknya tidak dibahas lebih lanjut.

Fenomena I..

Oposisi biner, seperti yang dijelaskan Derrida tentunya mudah diterima dan tidak akan menuai persoalan selama tidak menyimpan budaya hirarkhi. Namun faktanya oposisi biner telah membagi dunia dalam dua kategori, lebih baik [ atau lebih buruk ] dari oposisinya ; Mayoritas – Minoritas, Pusat – Pinggiran, Global – Lokal, Luas – Sempit.

Bisakah kita menerima istilah ‘Theos’  sekedar sebagai ‘tanda’ bagi yang percaya Tuhan, dan ‘Atheos’ bagi yang tidak mengakui-Nya? ( dan agnostik bagi yang mempercayai-Nya dengan caranya ).  Nyatanya mereka yang beragama akan dianggap lebih tinggi daripada tidak, bahkan cendrung dikaitkan dgn moralitas, Theis pasti baik sedangkan Atheis mutlak bejad. Padahal jika kita kaji secara bijak, seorang atheis sekalipun pastilah telah mengalami perjalanan spiritual yang luar biasa berkaitan dgn keputusannya- ketimbang mereka yang konon beragama dgn faktor blah blah blah.

“With or without religion, you would have good people doing good things and evil people doing evil things. But for good people to do tiiitt.. ( sensor ) –Steven Weinberg

Fenomena II..

Oposisi biner-pun ternyata melandasi budaya Patriarkhi ‘Pria – Wanita’ Perhatikan ; Kadangkala ( di Indonesia khususnya ) wanita baru menjadi ‘wanita‘ setelah dikaitkan dengan laki-laki. Tidak seprti istilah ( cop ) Policeman & Policewoman sebagai pembanding Pria – Wanita, tapi istilah polisi lebih umum daripada Pol-Wan. Istilah Ikatan Pelajar bla bla ( IP.. ) lebih umum dari ( IP[W]anita… ). Jelas sekali terma yang merujuk pada laki-laki lebih luas dan lebih dominan daripada terma untuk wanita. Lalu apakah oposisi biner selalu menciptakan pertautan jenjang makna? Kembali ke kutipan percakapan diatas ; ‘Ucok itu protestan, bukan non-muslim’

Penggunaan term ‘non’ di depan suatu label merupakan proses peminggiran keberadaan entitas lain. Penggunaan imbuhan non menyiratkan bahwa pusat dari perbincangan adalah entitas utama. Bayangkan saat sebuah desa dianggap hanya terdiri dari kepala desa dan Non-Kepala Desa. Kepengurusan Osis hanya terdiri dari Ketua Osis dan Non-Ketua. Ada proses pengidentitasan secara kasat mata disini untuk merepresi di luar pusat, kasar sekali.

Inilah faktanya, Istilah non-muslim lebih sering digunakan daripada, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dsbg. Islam lebih superior dan luas daripada Non-Islam. Agama lain seolah merupakan sub ordinat dari keluasan term Islam sehingga untuk menunjuk agama diluar islam, kita hanya perlu memberi pembeda Non.  Ini tentu hanyalah sampel dari fenomena yang terjadi disekitar kita. Tentunya diluar sana-pun mungkin terjadi peng-oposisian serupa, misal Yahudi – NonYahudi. Apakah sekedar alasan teknis untuk mempermudah? Atau jangan-jangan nalar oposisi biner sudah mendarah daging pada masyarakat (khususnya Muslim) Indonesia dengan sikap arogansi sebagai pemeluk agama mayoritas?

Di hadapan Tuhan aku seorang Muslim, tapi dihadapan manusia aku hanyalah manusia, karena diantara.. tiitt ( sensor ) – Tan Malaka

Bagi yang menerima logika diatas, mari melapangkan hati untuk melafalkan istilah Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu, dsbg untuk menyebut agama selain Islam. Dengan begitu maka masing-masing term agama berada pada posisi yang setara ( Saya tidak bilang semua agama sama, tapi setara dalam sistem sosial ) Tidak ada pusat – tidak ada pinggiran. Semuanya menjadi entitas yang ada dan diakui bukan karena pertautan atau ketergantungan dari entitas lain. Jikapun terjadi kondisi penyederhanaan penyebutan, tidak ada salahnya mengganti pembeda Non seperti filosofi Kata ‘Tetangga Sebelah’

Ini bukanlah pluralisme tapi pluralitas sosial yang memang suatu keniscayaan. Bukankah jika Ia menghendaki, niscaya kita dijadikan-Nya satu umat saja? Perbedaan adalah fitrah agar kita berbuat kebajikan.  Sudahkah kita memuliakan tetangga sebelah? Think again..

Advertisements

67 responses to “Kita & “Tetangga Sebelah”

  1. Percaya diri dengan jalan spiritualnya sendiri yang diimani adalah keindahan dan konsekuensi. Namun pluralisme membunuh akan kepercayaan diri dalam mengimani jalan spiritual, seperti kata “kafaro” yang ditujukan kepada tetangga sebelah, nampaknya tetangga sebelah sendiri yang menolak karena doktrin sarkastik. Padahal “Kafaro” bagian dari partikel dari konsep keberagamaan islam. Seperti ketika tetangga sebelah menyebut “Domba Tersesat”, itulah pluralitas, ber-percaya diri dengan segala rangkaian spiritual yang diimani serta dipilih. “Lakum Dinukum Waliyadin” sebuah dasar atau konsep brilian dari pluralitas. Sedangkan prulalisme adalah produk syahwat pemikiran yang berjargon toleransi namun sebetulnya orientasi dari produk mereka yang merasa memiliki tolerasi, kemudian atas dasar kemanusiaan menghilangkan fase-fase sakral yang telah diimani. Dan pluralisme bagian dari produk imajiner untuk menghilangkan kata “Tuhan”.

    “With or without religion, you would have good people doing good things and evil people doing evil things. But for good people to do tiiitt.. ( sensor ) -Steven Weinberg

    Sedikit intemezo :”when it does not recognize the existence of god then do not say “I hope” – zy

    Nice posting,

    • Yup menarik nih ^^
      Tentunya istilah ‘kafaro’ dan ‘domba’ mrupakan term internal dari sudut pandang Agama, dan di ‘keluarga’ kita trnyata ajektif kafaro-pun terangkum dalam kata dasar ‘akh’ ( ukhuwah ) yang disebut 52 kali dengan berbagai penjabaran yang luas di folder ‘keluarga’ kita.

      Sufi mengistilahkan ; Agama adalah jubahku, tidak perlu malu mengenakannya, tak perlu juga angkuh, dan hakikatku adalah kasih sayang sesama manusia atas namaNya.

      Mnegnai ‘hope – hope-an’ sudah pernah di bahas di ‘Perlukah Berdo’a’ monggo, selamat bertetangga. Jazzakallah khairan ^^

      • Jadi teringat ketika perang wacana dengan seorang mantan manager group band punk rock asal bali. Pro kontra tentang keberagaman akhirnya bersandar pada dua kata “pluralisme atau pluralitas” bagi saya, tidak usah bertetangga dengan yang lainnya dulu. Di dalam atap saya sendiri saja saya masih bertetangga….

        • Bner bung. seatap sperti ‘folder – sub folder’ kdang dlm mengkaji folder utama biasa2 aja, pas nyrempet ‘sub’ bisa jd sngat sensitif ^^

          SID kah? btw mreka faham konsep oposisi biner loh, outsider untuk pria, ladyrose untuk wanita, bukan outsider ‘putri’ hahha oot

          • ya mantan managernya, sempat rame juga di salah satu media online 🙂

            maksud saya mengenai atap tadi, pasti bung mengerti…. teh manis sore untuk bung berjaket hitam… dari belakang nampak foto uncle billy idol 🙂

  2. NIce post , Joz.. 🙂

    Bagi saya agama itu masalah hati, ketentraman dan penyandaran dan hanya yang Maha membolak-balik hatilah yang memiliki hati itu…

  3. Rumi juga pernah bilang, “Jangan tanya apa agamaku. aku bukan yahudi. bukan zoroaster. bukan pula islam. karena aku tahu, begitu suatu nama kusebut, kau akan memberikan arti yang lain daripada makna yang hidup di hatiku”
    Melihat kisruh yang terjadi di perayaan Waisak di Borobudur kemarin, saya jadi sadar, konsep keberagaman dan saling menghormati antar tetangga perlu disebarkan lebih luas ke banyak orang.

    • Gitulah Rumi, nyeleneh tapi pesannya dalem. persis analogi daging & hatinya Gusmus. salut buat para budhis yang msih tetap jaga kesabaran, respect

  4. weldon. Keyakinan dengan kadar spiritualitas sekental apapun emang tidak patut ditautkan dengan strata moralitas meski memungkinkan implikasi. value etis-estetis adalah murni hakikat individu. mengkorelasikan keyakinan tertentu dengan kebaikan-ketidak baikan adalah mitos, seperti mitos pohon beringin pasti berhantu, orang batak pasti kasar, orang jangkung pasti lambat… etapi aliran ini sebelum apa sesudah derida ya? pastinya si stelah dekonnya Heidegger n husserl

    adjek ‘non’nya rawan didekon,ogah ikutan ah

    • gpp. ikhlas didekon asal sekat tag-nya jelas. pluralitas – pluralisme, aqidah – sosial. lagian hanya penyebutan ( lafal ) berbasis etis toh. o iya heidger jg ya *sungkem*
      urang sono musikalitasnya tinggi, mitos apa ngga om? < skak!!

      • mungkin bisa tapi sulit lah pastinya,kalau memungkinkan timbl” terapan semiotik semacam etika dekonstruktif. bah.bakalan jadi ilmu baru,MDG dah. gimana ya,mitos ini seringnya hasil proses internalisasi yang kekeuh.latah-isme ama logosentrisme takkan pernah sinergis juga.forum bertebaran kita mah ngeramein saja + nyepam dikit..

        bukanlah,banyak faktror,kesempatan berkarya,penghargaan,komunitas dan ruang gerak yang luas.mitos struktural mungkin hahahahah

  5. nice post bung, penyetaraan bukan berarti isi yg disetarakan, karena sudah menjadi model dikeseharian hal ini jadi tersepelekan, ane langsung sadar bung 🙂

  6. Saya non-Joz…. 😆
    kalau keseringan baca ini, gaya berbicaraku bisa jadi makin sulit dimengerti nih…

    Istilah non-muslim terkesan merendahkan kah? Menurutku tidak begitu. Mungkin pendapatku ini karena saya sudah merasa hal ini lazim dalam kehidupanku sehari-hari.

    • trgntung pnempatan mngkn falz “kepada yang non …” atau dgn aroma arogansi “ih, kamu kan non …” tp sking lazimnya gpp ya.
      trims falz mari bertetangga 🙂

      • Penempatan kata “Non-…” yang bersifat diskriminasi maksudnya? Atau justru kita yang terdiskriminasi nih? *aduh kenapa isunya malah diskriminasi?*

  7. “Agama terbaik adalah agama yang lebih mendekatkan seseorang dengan Tuhan, yaitu agama yang membuat orang tersebut menjadi manusia yang lebih baik. “

    “” Agama apapun yang bisa membuat kita menjadi lebih welas asih, lebih berpikiran sehat, lebih objektif dan adil, lebih menyayangi, lebih manusiawi, lebih mempunyai rasa tanggung jawab, lebih beretika. “”
    By Dalai Lama -both quotes-

    WHY JUDGE?

  8. Wew,,, 😀 Saya suka ini : Bukankah jika Ia menghendaki, niscaya kita dijadikan-Nya satu umat saja? Perbedaan adalah fitrah agar kita berbuat kebajikan.
    Setuju!

    Btw, itu semua hasil olah pikir sendiri? Saya pinjam otaknya dunk. :p pengen buat tulisan berbobot macam ini. hihi

    • skedar uraian berbagi fikir. pastinya terinspirasi brbgai mcam hal,bhkan pemikiran pihak lain. tak ada sesuatu yg baru di bawah matahari 🙂
      pke hati aja mbak, otak bole minjem sm yg buat :p

  9. btw, apa sih artinya cogito ergo sum!
    saya berfikir maka saya ada?

    dulu waktu kuliah sering dipanggil butet, padahal bukan orang batak, karena dulu hidung betet dislang jadi butet, tampang sih kaya orang batak katanya, padahal temen sekamarlah yang orang batak..

    apalah arti nama.. butet bukan berarti non muslim.. nama = agama = absurd = entahlah..

    • Kalo nggak tau ya ditanyainlah, saya biasanya nanya gini, “Kamu lebaran atau natalan?”. Karena bagi beberapa orang lebih sopan nanya gitu daripada nanya, “Kamu islam atau kristen?”. Gitu sih menurut saya mah.

      • ya I do that to Raf. Atau nanyaku “Jum’atan atw Mingguan”, lebih sedikit halus, tapi tanpa maksud melebeli seseorang, cuma untuk lebih berhati-hati klo mau berkata-kata.
        *btw yang punya blog ngilang*

  10. mulanya ini “hanya” kunjungan balasan… tapi ternyata disini aku menemukan sebuah pertanyaan mengenai superioritas manusia yang mencoba melebihi wewenang Tuhan… 😀

  11. Pingback: Tentang Sesuatu yang Kalian Sebut Sebagai Kehormatan | Butterflychaser

  12. sangat positif,damai dan menyejukan gan. filsafat ternyata bisa jga sepragmatis ini yah hahahaha…
    jabat erat dari tetangga jauh di pulau dewata. senang bisa tersesat kemari. Namaste 🙂

  13. nice artikel bro, lumayan untuk bahan berpikir deh, dan ide yang bijaksana kupikir, soal gimana seseorang beragama ato berkeyakinan mungkin memang bergantung pada pribadi tiap orang.. tapi untuk urusan keharmonisan dan mengharagi perbedaan kupikir wejangan semacam ini memang perlu di sampaikan.. bener-bener lets thinking deh! lanjutkan bro..

  14. nnyesssss…. sejuknya hatiku membaca ini. ya ya aku percaya manusia baik dan sikap luhur itu bisa datang dari mana saja apa pun agamanya apa pun latar belakangnya dan dan kayaknya kita tetanggaan ni mas bro,muslim kan ya? selamat menunaikan puasa aja ya,semoga slalu menjadi pribadi yang luhur

Trims for Your Comment..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s