Nasi [ Basi ]-onalisme

… Jangan percaya
pada berita mass media cetak
dan elektronika!
Penguasa berteriak-teriak setiap hari.
Nasionalismenya mirip Nazi – Wiji Thukul

Begitulah penggalan sebuah puisi perjuangan yang tercipta dalam rangka pemberontakan terhadap rezim orde baru. Ya, orde baru, masa yang nyatanya telah sekian dekade berlalu. Konon masa itu di warnai dengan berbagai kisah heroik, balada pejuang – pejuang reformasi yang mengatasnamakan nasionalsime. Tapi sudahlah, rasanya tidak perlu lagi menganalisa kembali  fenomena masa lalu yang selalu sarat kontroversi. Tidak perlu juga memaksakan diri menghimpun segala macam bukti – bukti absurd tentang sejenis ‘aib’ dan kejahatan penguasa di kala itu dengan penuh hujatan dan caci maki khas anak muda Indonesia yang konon kritis, berjiwa pancaSilat, sang nasionalis revulisioner dan merdeka. Lagi – lagi frasa nasional-isme di umbar disini. lantas apa sebenarnya nasionalisme? Bagaimana peran nasioanlisme dalam mewujudkan kebangkitan bangsa? Masih relevan-kah nasionalisme dijadikan sebagai faham?  Let’s Thinking..

Seringkali makna nasionalisme terbelenggu pada fasa romantisme sejarah. Nasionalisme menjadi istilah yang terdengar tanpa kedamaian dan hanya menjadi sebuah retorika politik  dengan argumn historistik partial, lalu menutup dirinya untuk di-artikulasikan dalam konteks kekinian, but it’s ok – karena jika berkaca pada sejarah perjuangan bangsa ini, nasionalisme adalah suatu faham yang luhur dan sakral. Faham yang dijunjung demi penegasan tekad bangsa untuk terbebas dari belenggu kolonialisme dan imperialisme yang dibalut nasionalisme [ pula ] barat berwatak ‘barbar‘ dan ekspansionistik. Nasionalisme Indonesia [ kala itu ] bukan merupakan monopoli suatu kekuasaan tapi melampaui batasan etnis, ras, suku dan agama. Dengan begitu nasionalisme sukses menjadi perekat dari beragamnya kepentingan kalangan pergerakan dalam mencapai Indonesia Merdeka. Di lapangan politik, nasionalisme menjelma menjadi kebangkitan bangsa pada proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus ’45. Nasionalisme ; Ideologi bangsa vs Imperialisme

Pasca era kemerdekaan, nilai luhur nasionalisme ternyata diragukan dalam diskursus publik, terutama dalam konteks globalisasi, sehingga tercetuslah istilah ‘Pasca-Nasionalisme’. Kegelisahan kalangan pasca nasionalisme ini dapat difahami saat nyatanya nasionalisme dapat dengan mudah berubah menjadi fanatisme fasistis, bahkan sering kali di belokkan sebagai landasan filosofis demi kepenetingan – kepentingan tertentu, pada saat praktek nasionalisme itu dipaksakan berdefinisi tunggal.

Hal ini menjadi gamblang seiring lahirnya pemerintahan orde baru. Or-Ba telah merdeuksi nasionalisme sedemikian rupa menjadi sekadar kedaulatan teritorial; Sabang sampai Merauke tanpa memperdulikan aspek kedaulatan ekonomi dan budaya. Nasionalisme Or-Ba dirasakan hanya berorientasi pada kepentingan dan keistimewaan elite penguasa. Segala sesuatu yang bersebrangan dengan kepentingan elite berarti mengancam kedaulatan nasionalisme, ditambah lagi kesan nasionalisme militeristik yang tidak pro rakyat. Dominasi super-sentralisasi kekuasaan ini menyulut pemberontakan para nasionalis muda untuk bangkit atas nama rakyat, dan akhirnya secara dramatis berhasil meruntuhkan rezim orde baru. Nasionalisme ; Kedaulatan rakyat vs Kapitalisme

Lantas nasionalisme yang seperti apa yang terjadi di masa kini? Apakah makna kebangkitan nasional kini hanya sekedar peringatan? Well, kita tidak lagi terjajah dan terkekang. Kebebasan nyatanya telah ditawarkan dengan terang benderang sebebas – bebasnya, dan kita pun telah bangkit. Bangkit dan kesetanan. Di satu sisi nasionalisme berpayung kosmopolitan terkesan meneduhkan dengan berbaurnya globalisasi, internasionalisme dan radikalisme, di sisi lain separatisme yang menetaskan xenophobia tetap kukuh pada egoisme independensinya. Chaos!

Nasionalisme ( kini ) bukan lagi tentang kebangsaan tapi ke-isme-an, bukan lagi soal kemanusiaan tapi ke-aku-an. Beragam jenis lembaga, komunitas dan ormas – ormas saling tumpang tindih kepentingan dengan menjunjung panji – panji nasionalisme masing – masing. Persetan penguasa, siapapun kini bisa tampil dan berhak menilai kadar nasionalisme pihak lain. Lembaga X memancing munculnya lembaga anti X, muncul pula lembaga suci Y sebagai penengah,  lalu disusul lembaga pengawas lembaga suci Z dan lembaga sontoloyo lainnya. Sikap tepo seliro melahirkan lembaga anti pluralisme, semangat bertoleransi memunculkan  ormas anti liberalisme, isme isem dan isme!

Seperti ini-kah nasionalisme? Seperti seniman yang mempermalukan bangsa dengan parodi – parodi panggung politik, para pemuka yang berdiskusi berdebat & berjualan agama dengan aroma arogansi dan diskriminasi, pertikaian antar etnik, suku bahkan almamater, musisi dengan embel – embel rebel lalu bebas menuliskan lirik sumpah serapah. Agaknya nasionalisme memang sudah basi.

“Maka cinta saya pada tanah air adalah cinta  kepada manusia”  – Mahatma Gandhi

Advertisements

43 responses to “Nasi [ Basi ]-onalisme

  1. bukannya seperti itu polanya? Dijajah – berjuang (nasionalisme) – merdeka – menikmati kemerdekaan (egoisme dan kapitalisme) – hancur – bangkit (nasionalisme) – merdeka – dst dst

  2. Izinkan rakyat indonesia kembali tersenyum seperti dulu, wahai nasionalisme….
    Nasionalisme isme yang berkamuflase, tintanya berwarna emas…..

  3. walo basi tapi msh hidup kan… krn nasi basi pun msh bisa diolah utk mnjdi makanan, bgtu halnya dgn nasionalisme yg sekarang dihantam oleh berbagai faham yg sedikit bnyak meracuni pola fikir anak bngsanya..

  4. banyak yg menyalah artikan nasionalisme, nasionalisme mereka saya juga tidak tau benar atau salah, namun menurut saya nasionalisme adalah bagaiman kita memandang bangsa dan bertindak seperti bangsa

  5. Nasionalisme basa-basi. Sepertinya tanpa embel-embel nasionalime itu atau isme-isme yang lain pun saya akan tetap mencintai negeri ini sebobrok apapun itu. Karenacinta itulah yang sebenarnya dibutuhkan negeri kita. 😉

  6. Mengutip perkataan seorang kawan, seorang anarkis militan: “Nasionalisme adalah sebuah lelucon yang tak lagi lucu. Dan pada akhirnya, untuk memerdekakan masing-masing dari setiap diri kita sendiri, semua -isme hanyalah kemunafikan yang sudah selayaknya kita tolak.”

    Para anarkis, seperti kata Barthes, sedang membentuk mitos tandingan untuk melawan mitos lama (baca: negara dan segala tetek bengek otoritasnya). Tapi, saya kurang yakin. Mungkin dunia tanpa -isme akan lebih indah. *utopis banget, disambit klepon*

  7. Superman is dead mas, here zero semuanya fuckin cow
    Saya pernah bercerita sama lenjen samsuri dari angkatan darat waktu itu mereka dinas buat abri masuk desa di kepulauan riau mereka bercerita bahwa di gedung DPR itu sudah engga ada lagi yang mengenal nasionalisme apa lagi pancasila mas

  8. tanpa kolonialisme, tentu nasionalisme tidak akan pernah ada di Indonesia raya ini. maka, berterimakasihlah pada penjajah. 😀 #plakk

  9. ponakanku pernah bilang, nasionalisme itu makan tempe nolak burger, minum bandrek nolak cocacola, bermain dacon nolak playstation, berbaju daster nolak rokmini.. :p

  10. Wiji Thukul ada benarnya
    bedanya dulu media propaganda identik dengan negara
    sekarang swasta
    Cuma lucunya
    Sejak Orba tak lagi di istana
    biang media selalu gagal naik takhta
    Cuma ya,
    raja tak resmi selalu ada di luar singgasana
    terkekeh membentuk opini massa
    yang menyangka nonton TV membuat mereka makin melek berita :mrgreen:

Trims for Your Comment..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s