Benarkah Itu Einstein? Ciyus?

Ini mungkin akan terdengar familiar. Sebuah kisah tentang perdebatan seorang anak yang konon jenius dengan seorang profesor yang konon seorang atheis. Kalo belum pernah tau, Baca disini- . Singkatnya, diceritakan sang professor membuka diskusi di kelas dengan pertanyaan : ‘Apakah Tuhan menciptakan segalanya? dan Apakah Tuhan baik? Lalu mengapa Ia menciptakan kejahatan dan kesengsaraan? Artinya ia tidak baik’ Seorang anak yang jenius lalu menjawab : ‘Kejahatan dan kesengsaraan tidak ada, itu hanyalah kondisi ketiadaan Tuhan dalam hati manusia’
Hmm.. menarik.

Lalu Profesor kembali bertanya : ‘Jika Tuhan ada, pernahkah kalian mengetahui keberadaanNya? Kalau tidak, berarti Tuhan itu tidak ada’  Si anak jenius kembali beraksi. Ia melontarkan pertanyaan balasan : ‘Adakah yang pernah melihat otak professor? Jika tidak, berarti professor tidak punya otak’
Wow! Counter attack, rasain lo prof, dasar atheis.

Kemudian cerita tersebut ditutup dengan manis : ‘Dan anak jenius itu adalah Albert Einstein‘ . Seluruh semesta-pun bersorak bergembira [ Mungkin termasuk kita ]

Well, bagaimana menanggapi kebenaran ceritanya? Sempurnakah permainan logika anak yang konon jenius tersebut? Dan benarkah dia Einstein? Let’s thinking?

Diceritakan bahwa si anak jenius memaparkan beberapa teori perbandingan demi mempertegas rumusan kongklusinya bahwa ‘Kejahatan adalah wujud dari ketiadaan Tuhan di hati manusia’. Teori pembanding pertama : ‘Apakah dingin itu ada?’ menurutnya dingin itu tidak ada. Kita menciptakan istilah dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas ( no heat ). Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Teori kedua : ‘Apakah gelap itu ada?’ menurutnya gelap pun tidak ada. Gelap hanyalah istilah untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya ( no light ). Kita bisa mempelajari cahaya, tapi tidak kegelapan. Terdengar masuk akal?

Ternyata telah terjadi kesalahan semantik dsini.  Antonym for cold isn’t heat, it’s hot. Panas dan dingin hanyalah istilah subjektif untuk menjelaskan sensasi kita akan suhu. Istilah ‘dingin’ dan ‘panas’ merujuk pada interaksi antara sistem saraf dengan variasi dinamika unsur atomik pada lingkungan. Terlepas dari interpretasi panas atau dingin, suhu tetap eksis. Anda tidak perlu menunggu suhu se-ekstrim -460 F untuk merasa kedinginan. Sama halnya saat Polar Bear merasa sangat normal dengan kondisi kutub utara. Jadi suhu sejatinya akan tetap ada. Takaran rasa panas ( sekali lagi hot, bukan heat ) atau dingin bisa saja diletakkan di titik manapun pada tingkatan suhu, sangat subjektif.

Begitu pula dengan teori ketiadaan cahaya /  no light ( In this context a noun denoting a form of energy ). Gelap ( dark ) dan terang hanyalah istilah subjektif untuk mendeskripsikan bagaimana subjek mengiterpretasi partikel foton secara visual. Terlepas dari fenomena gelap atau terang yang anda alami, foton sejatinya akan tetap eksis. Jika manusia menyebut kondisi dimana ‘terdapat foton sebanyak x’ sebagai ‘gelap’ mungkin kelelawar akan menyebutnya “Biasa aja bro”. Jadi intinya foton selalu ada. Kondisi gelap atau terang adalah tergantung bagaimana kita beradaptasi dengan intensitasnya.

Mungkinkah sesuatu bisa begitu ekstrim dimana terjadi kondisi luarbiasa dingin dan/atau luarbiasa gelap misalnya, sehingga secara universal diyakini kondisi tersbut pasti dingin dan/atau gelap?

Saya katakan bisa saja jika [ dan hanya jika ] kita mencoba menggunakan pendekatan ekstrim.

Saya akan bertanya : Pernah liat cowok ganteng? ( Yang menjawab tidak pernah, saya kurang faham apakah karena standar yang terlalu terlalu tinggi atau memang antisosial ) Lalu apakah artinya kejelekan itu tidak ada karena hanya merupakan hasil dari ketiadaan unsur ketampanan? Mungkinkah ada seseorang yang begitu jeleknya sehingga seluruh jagat raya menjudge ia jelek? Yang kita lihat sebenarnya bukanlah fenomena ganteng dan jelek tapi hanya sebuah pola proporsi dan komposisi dari paras. Mari mencoba berfikir ekstrim.

Bagaimana jika proporsi dan komposisi di rekayasa sedemikian rupa? Masih relevan kah istilah ganteng dan jelek saat melihat kondisi ekstrim ini? Intinya, sekalipun subjektifitas diwakili secara mayoritas tetap tidak akan mengubah sesuatu yang relatif menjadi objektif.

Puzzle face

Adalah kekeliruan berlogika saat mengusung teori perbandingan antar entitas yang tidak tepat. Dan akhirnya akan bermunculan bermacan perbandingan ambigu lainnya :
Kemisikinan tidak ada, yang ada hanyalah ketiadaan kesejahteraan
kebodohan hanyalah ketiadaan intelegensi
Keraguan adalah ketiadaan iman ( makin absurd )

Kemudian beralih ke pernyataan kedua. Bagaimana menanggapi pertanggungjawaban empirik atas suatu entitas? Saat tidak ada yang pernah melihat otak profesor apakah berarti ia tidak punya otak? Saya membagi dua kondisi logika, yang pertama adalah melogikakan otak sebagai entitas materi. Science is not merely looking at things. Science is empirical, but also rational. Siapapun meyakini adanya sebuah organ bernama otak dalam tempurung kepala seseorang atas dasar ilmu pengetahuan, case closed. Kondisi kedua adalah melogikakan otak sebagai entitas non materi ( ide / fikiran ). Berlogika melihat sesuatu yang imateri adalah suatu false presumption ( kesalahan ketegoris ) dalam artian menggunakan tolak ukur yang salah untuk suatu entitas, seperti menanyakan warna dari suara ( lupakan sejenak majas dalam sastra ).

Well, terlepas dari pernah atau tidaknya kejadian dalam cerita tersebut, mengingat banyaknya logical fallacy yang terjadi serta tidak adanya catatan valid tentang kejadian tersebut, adalah wajar bila kita bertanya : Benarkah Itu Einstein?

Begitu banyak pihak yang mencetuskan sebuah gagasan dengan kedok apapun itu, entah fiksi, kata motivasi ataupun parodi – parodi sarat hikmah dengan mengikutsertakan tokoh – tokoh terkenal didalamnya demi memantapkan sugestinya pada publik, atau mungkin sekedar mensugesti ( mempercayai kebohongan ) dirinya sendiri. Bahkan yang terjadi saat ini, tak jarang Tuhan pun di ikut sertakan sebagai tokoh. Saat saya bilang sebagai tokoh tentu berbeda dengan Tuhan sebagai objek berfikir pada ranah flsafat dan teologi, berbeda juga dengan pelajaran Tuhan dan sifatnya dalam kajian agama, juga Tuhan sebagai gambaran eksistensi subjektif dari sudut pandang manusia dalam berkarya seni ( bukan karya remix di youtube yang lagi rame ya )

Tuhan sebagai tokoh artinya Tuhan bermain peran dalam sebuah cerita buatan manusia, terlepas dari tujuan yang mulia atau demi hal – hal positif seklipun, kebenaran adalah akan selalu benar, begitupun sebaliknya.

Masyarakat cendrung mencibir dan memandang sinis para theolog, filsuf serta para pencari Tuhan, menganggap tidak pantas nya Tuhan dijadikan objek pemikiran, padahal tanpa disadari mereka sering larut dalam sugesti – sugesti parodi Tuhan disekitar mereka. Membuat seolah – olah Tuhan bercakap – cakap dengan bayi, dengan tanaman, dengan pengemis dsbg. Maka izinkan saya bertanya : Benarkah itu Tuhan? Ciyus?

.
.

Advertisements

75 responses to “Benarkah Itu Einstein? Ciyus?

  1. wah penggiringan logika yg baik dan dapat diterima bung, massa terbelenggu dalam sugesti yg sengaja atau tidak sengaja mereka ciptakan, dalam arti dengan memasukkan unsur ini dari bawah sadar mereka mengakui atau meyakini dari uraian, namun apakah salah sesuatu hal yang kita yakini? 🙂

    • penggiringan opini jelas disengaja bung. Kalau yang dimaksud meyakini dengan ‘Tidak logis’ kayaknya keliru, terserah aja sih 🙂

      • yap jelas disengaja itu yg ingin diperjelas disini,
        dengan begitu meyakini adalah hal yg logis, jika tidak opini2 tersebut tak akan mendapat tempat di khalayak 🙂

  2. yak…betul…banyak kisah2 motivasi yg membawa2 tuhan dalam dialog dgn malaikat yg inspiratif, misalnya tentang penciptaan manusia bergelar Ibu..banyak sekali yg memforward, bc, atau like..tapi sedikit sekali yg bertanya..apakah benar2 ada dialog itu?

  3. Terlalu banyak pemutarbalikan kata di sini, saya bingung. Selayaknya filosofi tidak membuat sesuatu menjadi lebih rumit, atau justru sebaliknya? Tunggu dulu, sebetulnya ini rumit atau kekurangmudahan pemahaman?

    • Sbnrnya trgantung kerumitan logical fallacy yang trjadi jg, dan kebetulan ini dikaji dalam bahasan sains. Dari awal mmg tlah trjadi kkliruan saat prtnyaan dgn muatan filsafat dijwab dgn kajian sains [ wlaupun dlm bbrp hal itu mngkn saja ], dan akhirnya logika trsbut dipatahkn oleh logika sains sndiri. Tapi jika mmg rumit untuk difahami smoga ada sisi postif yg bs diambil ya, trims bung ^^

      • Haha… setelah baca balasan komentarnya saya sedikit paham dengan alurnya sekarang. Saya memang tidak mempelajari logical fallacy, tetapi kesalahan awal sepertinya memang terletak pada pertanyaannya, maksud saya pada jawaban yang diharapkan dari pertanyaan awalnya.

  4. as always… postingan berat. setipe dengan si raf nih… hehehehe.
    duh… baca ulang dulu ah.

    soal cerita Einstein ini sih sudah sering saya baca kok.

  5. kini, terlalu banyak yg berani mentakwilkan….. bahkan terlalu banyak yang berpikir tentang kebetulan-kenetulan lupa dengan kebetulan yagn sepaket dengan perinci-perincinya. Well, jika saja perincian-perincian itu ditarik dalam berbagai macam versi, tekstual dan kontekstual? Jadi teringat kenapa, jika kisah setan yang di neraka nanti di hukum dengan api, padahal terbuat dengan api….

    Jika pada diri saya, maka saya akan meminta seseorang menampar saya, apakah sama dengan kasus setan juga?

    Entah apa yang dilakukan einstein….

    Well, nice posting. Orientasi imajinasi saya miring beberapa derajat….

    • Haha, bisa. Fenomena eksistensi satan ini scara kontekstual persis teori tetangga sebelah ttg Epicurus trilema. Kaum sufi sring membuat anekdot sperti ini : Kita seringkali sirik scara tersirat sperti meyakini dualisme kekuasaan ; yg baik murni berasal dari Tuhan & yg buruk murni berasal dari satan sehingga manusia hnya diibaratkan media hampa. Tuhan dan setan pun seolah adu kuat tarik menarik, manusia jadi tambangnya << Sekedar humor sufi saja bhwa sgalanya yg baik maupun tidak adalah dalam kuasaNya ^^

  6. waahh.. 🙂 berat!
    gag tau mesti komen apa. tapi baru ini saya mikir cerita itu dua kali. hehe.. kemarin baca sih ya gitu aja, ‘ohh Einstein.’

  7. Hebat sekali gan, artikelnya. Sangat banyak manfaatnya, mudah mudahan artikel ini bisa menyadarkan pola pikir adik adik kita semua.

    Oh ya gan, mau kasih tahu aja nih..
    Blognya pluginnya sangat menganggu jika di akses pake chrome android. Layar yg ane akses 4.7 inch.
    Terus ada tulisan “chrome for android doesnt support this plug in” Coba aja dites sendiri gan, pake mobile device.
    Oh ya gan, thanks banget ulasan artikelnya. Mudah mudahan bisa jadi kunjungan rutin gan.

  8. kog jadi inget cakmarto baca ginian.. filosofis.. kitanya yang digiring berfikir itu emang einstein, tuhan itu ada, absurd itu temennya omongkosong, ganteng itu cuma di mata, di hati jangan.. *eh?

Trims for Your Comment..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s