Bebaskan Ego [ Existensialism II ]

Maaf jika bahasan tentang kebebasan agaknya terkesan basi mengingat teori ini telah sejak lama dipaparkan secara fenomenal di masa lalu. Katakanlah Steiner dengan konsep free-will-nya, Sartre dengan lubang kunci-nya dan Foucault dengan Panoptikon-nya, bahkan Pramoedya melalui tetralogi pulau buru-nya pun menyiratkan konsepsi kebebasan. Gawat juga saat harus mempertahankan konsistensi dimana pada Paradox I faham kebebasan jelas – jelas saya anggap prinsip yang paradox. Saya akan usahakanย  ngeles se-efektif mungkin ^^. Apanya yang bebas saat Sartre latah dengan tetap menyertakan sosok Tuhan sebagai (salah satu) pengintip? Mengapa Pram bersembunyi dibalik tokoh sentral Minke sebagaimana Nietzsche yang menjelang akhir hidupnya condong ke karya sastra dan berlindung dibalik Zarathustra?

‘Kebebasan tidak akan pernah menjadi bebas sebebas – bebasnya karena pada puncaknya ia pun dibatasi dirinya sendiri’ย  asek!

Bayangkan jika ahirnya kebebasan diyakini sebagai prinsip yang mutlak, artinya kita belum terbebas dari keinginan untuk tak bebas. Saya jadi teringat postingan seorang teman blogger. Katakanlah ia seorang perfeksionis yang mungkin merasa terkekang oleh sifat tersebut. Apakah ia seharusnya membebaskan diri? Jika iya, artinya ia akan terbebas dari sifatnya sekaligus tidak bebas menjadi dirinya sendiri ( Abaikan jika teori paradox mulai memuakkan ). Esensi kebebasan sejati rasanya tidak mungkin hanya mengandung dirinya sendiri. Bicara kebebasan ( tidak bisa tidak ) adlah bicara tentang aspek kondisi dari entitas yg mem’bebas’kan ( diri ) atau di‘bebas’kan. Das ding an sich tidak mungkin ada tanpa adanya entitas mandiri. Memaksakanya berdiri sendiri tanpa bergantung sbagai penyerta dari ‘yang mengalami‘ย  hanyalah kesalahan gramatikal yang tdak memiliki nilai definitif.

Mengairi air, Memanusiakan manusia, Mengatur peraturan. Apakah ungkapan tersebut memiliki posibilitas empirik dan bernilai definitif? Kebebasan mestilah berarti ‘kebebasan sesuatu TERHADAP sesuatu’. Kebebasan ada sejauh menyertakan nilai konfrontatif / perhadapan antar entitas. Jika tidak demikian maka akan menjadi ketiadaan-kebebasan maupun ketidak-bebasan. Jadi dalam kondisi seperti ini kebebasan adalah tidak diperlukan. Tapi kita mungkin akan butuh saat memutar haluan ke pembahasan tentang ego ๐Ÿ˜›ย  Let’s thinking…

Suatu waktu saya membaca wacana tentang ‘Sok / Sok – sok’ an’ di salah satu postingan blogger senior. Ya, sebuah kata parasit yang bisa menempel di segala jenis kata demi sebuah persepsi negatif. Penggunannya jelas tidak berpijak pada landasan logis-empiris, tapi lebih kepada subjektifitas nilai terhadap subjek lain melalui media rasa yang luarbiasa absurd. Lalu beliau bertanya ‘Bagaimana orang yangย sok – sokanย itu?’ Jawab : sok – sokan adalah ketika masih terdapat unsur kontradiktif dalam keputusan berkaitan dengan nilai keputusan tersebut terhadap eksistensinya. Lalu jika anda menanyakan bagaimana cara menilai orang itu sok – sokan atau tidak, saya akan balik bertanya; mengapa anda merasa perlu menentukannnya? Bagimana jika kita yang berada pada posisi untuk dinilai? Miris melihat kenyataan bahwa setiap orang seolah lahir pada dunia penghakiman. Bahkan Sartre dalam Huis Clos beranggapan bahwa neraka yang sebenarnya adalah saat terjadi saling peng-objek-an antar manusia. Disinilah ego / ‘keakuan’ membutuhkan kebebasan ( lupakan sejenak klasifikasi psikologis ego-superego ).

Seperti cerita sederhana Ayah, anak dan Unta, Setiap orang pasti sering / Pernah diobjekkan, di cap, dilabel, di definisikan dan dibentuk identitasnya oleh pihak lain. Melihat kenyataan tidak adanya pilihan untuk meniadakannya kecuali mengabaikan dengan kemungkinan tidak secara total, sebagian pihak akhirnya memilih larut dan menjlankan peran sebagai wayang opini. Memang ada kalanya tepat saat label sok – sokan dikenakan pada topeng pencitraan demi eksistensi belaka ( kontrdiksi A ). Tapi mari sejenak berfikir terbalik, cobalah mengingat momen setiap kita menunda kebaikan hanya karena khawatir akan penilaian ( sok baik ), Berhenti peduli agar tidak di cap kepo, berhanti menasihati dalam kebaikan demi menghindari kesan sok bijak (kontradiksi B). Hasilnya? Unsur Kontradiktif A & B memungkinkan bernilai negatif ( sok – sok’an ). Menjadi ‘jleb’ saat logikanya, keputusan kontradiktif-pun bisa muncul tidak hanya akibat kekhawatiran akan nilai eksistensi negatif tapi juga nilai superpositif, seperti saat menjadi luar biasa rendah hati akibat khawatir di judge sombong justru memungkinkan timbulnya kesombongan terhadap ketidak-sombongan.

Jadi sejauh mana kebebasan bagi ego itu bebas? tentunya sejauh ‘AKU’ menjadi ‘AKU’ seutuhnya dalam artian membebaskan diri menjadi pribadi yang otentik.

Abaikan! Bebaskan!
Tetaplah di jalanmu dan teruslah tersesat kedalam dirimu sendiri

Jika harus egois, bijaksanalah dalam keegoisan.

Eksistensi adalah lebih dahulu dari esensi, jadi kenapa harus terbelenggu pada berbagai pasokan definisi diluar diri. Manusia adalah makhluk yang terus menjadi dan berkesadaran sehingga ia bercirikan kekosongan yang berlawanan dengan kepadatan benda-benda. Manusia tidak akan pernah terumuskan secara tuntas karena manusia selalu berongga, Itulah mengapa manusia BEBAS- tentu bukan dalam artian bebas yang sebebas – bebasnya melainkan bebas yang bertangung jawab atas nama kebebasan itu sendiri.ย  Think again..

โ€œNever be bullied into silence. Never allow yourself to be made a victim. Accept no one’s definition of your life, but define yourself.โ€ โ€• Harvey Fierstein

BE YOURSELF!

Advertisements

49 responses to “Bebaskan Ego [ Existensialism II ]

  1. Bahkan sbnerya fahm altruisme sekalipun dpet lebih egois dari ego itu sndr,,
    Garis besarnya setuju lah kecuali dibagian sindir”an karya pram. Filsafat sastra bukan bentuk pelarian tp swtu pemahaman bhw karya fiksi-terlebih prosa emang lebih greget utuk menggugah rasa.

  2. agak berat ni sob bacaanya, tapi ane paling senang ma kata yang satu ni โ€˜Kebebasan tidak akan pernah menjadi bebas sebebas โ€“ bebasnya karena pada puncaknya ia pun dibatasi dirinya sendiriโ€™. tapi kan memang fitrah’a di dunia ini yg pasti ada aturan. yg Maha Pencipta ja nyiptain aturan, masa kita mahluk’a mau hidup seenak’a. btul ga sob? :mrgreen: ๐Ÿ˜ณ

  3. Para penggiat kebebasan biasanya berambisi untuk menelaah atau menafsirkan sejauh mungkin tentang dua hal; tekstual dan kontekstual. Ya, biasanya. Dan banyak yang memilih menjadi pecinta kebebasan, kemudian menjadi fasis karena gagalnya kebebasan yang dipilihnya, itu dikarenakan; gagal menjadi tuan untuk dirinya sendiri. seperti yang pernah dikatakan Ali Bin Abi Thalib ” …..yang menjadi tuan untuk dirinya sendiri, menjadi kusir atas nafsunya dan menjadi nakhoda bagi bahtera hidupnya.”

    nice posting.

    • ya, tdk ad yg bs trlepas dri penghrapan atas ssuatu diluar diri. anehnya dibbrp forum, atheisme berupaya mendiskreditkan konsep keIlahian, artinya mreka mndefinisikan sesuatu dr entitas yg mreka yakini tidak ada.

      kpn kunci commentboxnya dibuka?

  4. jadinya kayak orang yang kebanyakan klarifikasi dulu ya sebelum bertindak, supaya gak dijudge ini itu belakangan. haha ๐Ÿ˜€ saya pun sering begitu. tapi yang paling baik memang kalau kita bertindak berdasarkan pengalaman yang bener2 kita udah alami dan dalami dan menjadi value dalam hidup sehingga tindakan keluarnya juga enak dan mengalir natural, gak terkesan ngarang atau memaksakan ide yang sulit dipertanggungjawabkan.

    • yo,ruang opinisosial (imajiner) mmg mngekang pembentukan karakter ya om. Saya pribadi sdang belajar scara empirik. dlu skeptis dgn teori sufi ‘takut dibilang riya’ itu riya’ (skrg baru ngeh) ad yg blg jenggot tipis aj biar g dikira salafis garis keras ๐Ÿ™‚

  5. Mantab bro tulisannya, as always. membuat baca berulang dan merenung lagi dan lagi. ๐Ÿ™‚
    tapi suka yang ini karena tidak seberat yang paradox (masih mumet bacanya). hihi. ego dalam diri manusia akan selalu ada karena itulah yang membedakan manusia yang satu dari yang lainnya, ini pendapat saya. karena begitu ego dilepas, dia sebagai manusia akan kehilangan arti. Tapi… tetap, harus ‘dijaga’ karena kita penguasa ego kita bukan sebaliknya. *gw ngomong apaan ya?*

    • aura kebijaksanaan memancar ๐Ÿ˜›
      sbnrnya saya pun krg ‘klop’ dgn pmkiran sndiri kali ini. jd smcam luapan ego pribadi ttg keharusan mnjadi individu yg otentik, pdahal sinergi antar entitas dalam smesta g bs dihindari, trmsuk sistem sosial.
      trims teori manajemen egonya om ^^

  6. tidak ada manusia atau satu makhluk pun yang sebenarnya bebas, bahkan dimulai sejak detik terlahirkan -sudah ada perjanjian disana-, karena satu sama lain pasti ada keterikatan baik diinginkan maupun tidak. Tidak ada arti sesungguhnya BEBAS itu. Kecuali memang harus bebas yang bertanggung jawab.

    You rock Mr. Fzx !!..

  7. Bebas yang tidak bebas? :mrgreen:
    Pada akhirnya, tanpa disadari, memang banyak banget hal paradoks di dunia ini ya? Mumet juga ๐Ÿ™„

  8. manusia bebas untuk jadi diri, jadi manusia (makhluk = keterbatasan)
    bebas milih mau makan kambing atau babi (semua dengan konsekuensi)
    bebas memilih mau korupsi atau jujur
    tapi kalau ingin bebas dengan “kebebasan” tanpa konsekuensi, itu halusinasi
    jadi kurasa pilihannya, hanya
    pandai-pandailah memilih………

Trims for Your Comment..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s