Lagi – lagi Fiksi [ Elegi Loyalitas ]

Sniper-Elite-V2_b_123986 “Aku mencintai pekerjaanku dan Negaraku..
Aku yang terbaik yang pernah ada..
Atas Nama Loyalitas..
Aku tak dapat dihentikan..!”

“Jimmy Joetinov. Lulusan terbaik Milligan College berpredikat Top Ellite Sniper, bertahan 2 tahun di perang Alequero, 1219 target cleared, dingin dan akurat, menguasai medan Timur Tengah dan mengerti bahasa Arab”
“Siap pak!”
Perfecto.. Saya Jendral Hoggan, komando sniper garis keras.. Ini..!”
Hoggan meletakkan sebuah foto di meja, sebuah foto usang yang menggambarkan seorang paruh baya berperawakan arab dengan sebilah senapan laras panjang.
“Jamaluddin Al-Hamiddi, pimpinan Humas Al-badawi di kawasan Quba, licik dan manipulatif. Selesaikan tanpa suara di hari kampanyenya, lapangan Anshor 10 maret ”
“Laksanakan pak”
“Temui Abid di perbatasan, dia agen kita, sandinya ‘Awallun-Pavillia’ ada pertanyaan?”
“siap, tidak pak!”

Perbatasan Jallil Quba, 5 Maret 2013

Seseorang menghentikan langkah Jimmy, Garis arab tampak kental dari wajahnya, namun dengan mata biru dan tubuh atletis khas Eropa.
“Jimmy?”
“Awallun”
“Pavillia.. Abid The Eagles, Secret Agen Elite Quba, suatu kebanggan bertemu anda, mari ikut saya”
Mereka memasuki kawasan pasar yang padat hingga tiba di sebuah motel sederhana yang terkesan kumuh. Lantai 3 Motel Bardu’
Jimmy mengeluarkan vintorez yang belum  terpasang dari ranselnya. Dengan trampil ia merakit senjata khusul sniper tersebut.
“kelihatannya mematikan bung.. ”
“ya, kami menyebutnya taring sniper, 200 yard per detik, tanpa getar tanpa suara”
“astaga, jauhkan benda itu dariku, teman..”
“Tenang.. Ia tidak bekerja pada jarak dekat.. Reputasiku sebanding dengan jarak aku membidik”
“Aku dengar kau tidak pernah meleset, apa yang membuatmu segila itu?”
“Aku mencintai pekerjaanku, Tim dan negaraku, Aku tidak bisa dihentikan saat bekerja untuk itu”
“aaah.. atas nama loyalitas. luarbiasa, kau pasti berlatih sepanjang waktu”
“Begitulah, aku tidak ada waktu mengurusi jenggot dan cambang seperti kau dan orang2 disini”
“ahahahah.. ”
Mereka berdua tertawa hingga ponsel militer Jimmy berdering. “Survey kawasan Anshor besok, gunakan Abid untuk menetralisir, selalu waspada”
“siap pak”

 Lapangan Anshor, 6 Maret 2013

“Disinilah titik posisi Jamal berdiri untuk kampanye, aku akan tunggu disini, carilah posisi yang tepat untuk persembunyianmu”
Jimmy melihat skeliling, kemudian bergegas ke arah sebuah menara. ia terus naik hingga lantai teratas. Ia melambai kepada abid dari ketinggian.
Abid mendongak, tersenyum dan mengangguk…

Motel Bardu’, 9 maret 2013

“Hari ini tugasku mendampingimu selesai, kau yakin untuk besok?”
“Aku selalu yakin, apa yang akan kau lakukan besok?”
“Aku punya tugas lain, begitulah kehidupan… aku berdoa untukmu, aku harap kau memang tidak bisa dihentikan”
“Tentu saja, atas nama loyalitas!”
Abid menepuk pundak Jimmy kemudian berpaling meninggalkannya. Jimmy tersenyum

Lapangan Anshor, 10 Maret 2013

Lapangan anshor terlihat mulai dipadati warga. Jimmy telah siap dengan segala mental dan peralatannya. Tidak terlihat  sedikitpun keraguan dalam dirinya. Ini layaknya sebuah tugas kecil. Jamluddin Al- Hamiddi mulai masuk memecah belah kerumunan. moncong vintorez jimmy dengan teliti mengikuti setiap detail gerakan tergetnya tersebut.
Jamal tiba di podiumnya, ia melambai ramah ke arah warga yang meneriakkan namanya.. Jimmy menghitung dalam hati, jantungnya stabil, nafasnya berhembus teratur..

3… 2…1…  Jleeeb!!

Sebuah peluru panas menembus rongga kepalanya.
Sosok tinggi besar itu seketika roboh tak berdaya..
Darah kental mengalir deras dari otaknya..
Ya. Jimmy akhirnya tewas sebelum sempat menarik pelatuk senapan vintorez kebanggannya..
Tapi tertembak oleh siapa???

Sementara  itu dari luar sayup – sayup terdengar suara orasi jamaluddin Al Hamiddi..
“Wahai saudara – saudaraku. Aku berdiri disini bukan untuk kepentinganku sendiri tapi untuk kalian saudaraku..
Layaknya saudaraku yang selalu siap berdiri untukku…
Meski aku selalu terancam dimanapun.. meski aku tidak pernah luput dari bidikan senjata para penjahat.
Hari ini bahkan penjahat telah mengirim orang terbaiknya untuk mebunuhku.. Tapi aku tidak gentar..
Aku tetap yakin Adikku selalu siap sedia melindungiku..
Adikku Abid Al-Hamiddi tidak pernah meleset, jarak adalah reputasinya..
Dan dia tidak dapat dihentikan..
karena kami berjuang ATAS NAMA PERSAUDARAAN…!!



image

Advertisements

32 responses to “Lagi – lagi Fiksi [ Elegi Loyalitas ]

Trims for Your Comment..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s