Mencoba Fiktif [ My World ]



Its Me and Just me,
In My Place,
My World…

Aji merasa kepalanya semakin panas. Lebih dari 5 jam ia bergelut dengan laptopnya di pojokan selasar kantin Bude Robb. Ya, sebuah kantin sederhana di belakang perpustakaan. Kantin yang tidak lagi buka sejak dua tahun lalu. Kantin yang menjelma menjadi ruang meditasi untuk mencurahakan segala ide dan fikirannya.
Matanya terlihat semakin sayu menyisir 12 draft yang telah tertulis, konsep – konsep idealisme, Theologi, kritik tentang politik, pemerintahan, sistem sosial, ah.. rasanya ia tak sabar untuk sampai pada kongklusi, tapi energinya seolah telah melampaui batas.
Kelelahan itu semakin nyata.
Ia melepas kacamata lalu tersandar.
Nuansa keheningan yang sangat nyaman, membuat ia terlelap dalam zona privasinya~

***

Tiba – tiba Aji tersentak oleh kilasan suara. Suara yang terlalu manis untuk sebuah gertakan, suara yang selalu ingin Ia dengar.

”Hooii, Tuan pemikir, laptopnya hang deh kayanya”

Aji tertegun, sosok gadis manis dengan seragam basket putih keperakan tiba – tiba sudah duduk bersila dihadapannya. Parasnya begitu jernih, sorot mata yang polos dan senyuman khas yang selalu Ia puja – puja.. Ya Tuhan apakah ini nyata.

“oh, iya iya, udah biasa cha”

Aji yang selalu berkutat dengan wacana – wacana teoritis dan ilmiah nyatanya canggung dalam sebuah perbincangan langsung, terlebih dihadapan Chalsabila, wanita yang saat ini berada tepat dihadapannya, wanita yang selalu bisa membuat dunianya seakan terhenti.

“Lagi ngapain sih?”
“Oh, engga, lagi liat – liat tugas aja. Acha lagi apa? ah sial pertanyaan yang bodoh pikir Aji
“umh? lagi apa yaaa~ tadi abis latihan sih, ngeliat dirimu dari jauh, iseng aja nyamperin. Eemmm.. Kayanya ngeganggu deh ya? ”
“Ah, nggak kok nggak, slow aja”
Tentu saja tidak.  Mana mungkin makhluk yang begitu sempurna sepertimu aku anggap pengganggu, hati Aji bergumam.

“hmmm. aku pikir – pikir, daripada dirimu kesambet, mending aku tegor kan? atau~  jangan – jangan kamu emang udah kesambet ya, Ji? ”
“heh?” Aji yang sejak tadi menunduk, spontan mendongak ke arah Chalsa dengan ekspresi terkejut.
“——— ”
Gadis itu tak bergeming, Kedua bola matanya menari – nari kenanan dan kekiri. Bahunya perlahan bergetar bersamaan dengan sudut bibir yang semakin mendesak lesung pipinya untuk hadir menyempurnakan wajahnya… getaran bahunya semakin kencang hingga senyum yang sejak tadi dikulumnya pecah terurai menjadi gelak tawa.

“Hahaha, becanda Ji, ahahahha~ aduh duh tu kan jadi mules, ahahaha”
Seketika Aji tercengang. Rasanya seperti mimpi melihat sosok pujaannya tertawa lepas dan tanpa beban dihadapannya. Ahh, ternyata tertawa pun bisa seindah ini. Tanpa sadar tawanya serta merta ikut membaur bersama suasana. Tertawa dengan lega. Hal yang langka dilakukan oleh para apatis seperti Aji.

***

Sejenak ada jeda keheningan diantara mereka. Guratan tawa di wajah Chalsa beganti menjadi raut datar tanpa makna, tentu saja tetap tidak mengurangi sedikitpun kecantikannya. Ia melirik ke arah Aji dengan ragu.

“Kamu~  selalu seperti ini ya?”
“Hmm?”
“Kamu punya dunia sendiri kan? Dunia yang cuma kamu yang bisa ngerti”
Aji tercekat. Bagaimana mungkin sebuah pernyataan bisa membuatnya merasa seakan di mengerti sekaligus dihakimi.  Ia kehilangan asa untuk menanggapinya. Tatapannya kosong.
Andai kamu tau Cha, duniaku adalah kamu.

“Papaku pernah bilang; orang lain ga akan pernah nerima kita sebelum kita bisa nerima diri kita sendiri, klise banget ya? tapi ngga tau kenapa, kata – kata itu ajaib banget buat hidup aku. Yahh~ kadang hidup ini ga serumit yang kita fikirkan”

Aji masih terpaku. Setiap kata – kata chalsa seolah hujan panah baginya.

“Jah, udah jam lima, haduh diriku blum mandi”
Aji tersadar dari lamunannya saat Chalsa beranjak untuk berdiri. Ia merasa perlu menanyakan sesatu. Sesutu yang akhirnya menahan sejenak  langkah gadis pujaannya.

“Apa arti hidup buat kamu, Cha?
“Umh?” Chalsa terdiam beberapa sesaat.
Kemudian ia tersenyum perlahan.
Senyuman yang sempurna.

“Hidup itu~  Se- nyu- man”
“Senyum?”
“Hmm-eh. Senyuman itu menular lho, sebuah senyum yang tulus akan menghasilkan senyuman lain. Bayangin deh kalo  setiap senyuman bersinergi di seluruh alam semesta, kita bisa bikin dunia baru yang damai. Aaah jeniusnya diriku, hohoho”

Aji tertegun. Ia seoalh kehabisan kata.
Sebuah analisa spontan dan sederhana dari seorang gadis polos terasa bagai sebuah tamparan baginya. Telak!

Tiba – tiba Chalsa membalikkan tubuhnya lalu melangkah pelan ke arah Aji. Ia membungkuk dan meraih sebuah kacamata yang sejak tadi tergeletak dilantai.

“Aku tau kok kamu orang baik~  Suatu saat senyum kamu akan merubah dunia”
Ia tersenyum sambil perlahan memasangkan kacamata ke wajah Aji yang masih membeku.
“See-ya tuan pemikir, caw”

Aji hanya bisa menyaksikan siluet gadis pujaannya samar – samar menghilang dibalik senja.
Senja pikirannya sendiri~

Sebuah kenyataan sederhana baru saja menyadarkannya tentang segala hal.
Kenyataan tentang teori – teori yang selama ini membebaninya.
Kenyataan tentang dunia yang ia coba definiskan.
Kenyataan tentang hidup.
Dan kenyataan bahwa sosok Chalsabilla yang ia dambakan nyatanya tidak pernah ada di dunia ini.

Aji tersenyum lirih.
Tentu saja bukan senyuman untuk membuat dunia baru yang lebih damai,
Tapi tersenyum karena telah percaya pada bualannya sendiri.

image

Advertisements

42 responses to “Mencoba Fiktif [ My World ]

  1. aku agak sedikit gag nyaman karena banyak ….. dan tanda bacanya itu kudu diperhatikan mas *muup*
    akhir kalimat keknya satu titik aja.
    “Papaku pernah bilang .. orang lain ga akan pernah menerima kita sebelum kita bisa menerima diri kita sendiri ..
    klise banget ya … tapi ngga tau kenapa, kata – kata itu ajaib banget buat hidup aku .. yahh .. kadang hidup ini ga serumit yang kita pikirkan .. ”
    err coba perhatiin mas banyakan … jadi gag enak gitu T_T, coba versiku yah mas :
    “Papaku pernah bilang, orang lain gak akan pernah menerima kita sebelum kita bisa menerima diri kita sendiri. Klise banget yah. Tapi gak tau kenapa, kata-kata itu ajaib banget buat hidupku dan kadang hidup ini tak serumit yang kita pikirkan.”

    awal kalimat huruf kapital ^.^
    haduh lama2 diriku dipentung neh..maaap yah mas banyak kritik T_T

    • Ini yg saya tunggu, trims ya sist pembelajarannya. Itu saya kebawa suasana nyesuaikan dialog dengan imajinasi tentang nada, jeda dan intonasi, ga taunya ngawur -_-
      dtunggu kritik slanjutnya, biar saya g salah kedepannya, sip 🙂

    • iyaaaaahhh… idem ama Ranny!! hihi.. gak kreatip ya, main idem aja *toyooorrr
      tapi emang bener kok, ceritanya udah bagus banget, konflik dan klimaksnya udah keliatan. Diksinya juga bagus!! jempol deh…
      itu kehadiran sosok Acha hanya imajinasinya Aji kan? *baca sekali aaahhh 😀

  2. Jleb! Kadang mikir ‘orang yang mikirnya simpel sepertinya hidupnya lebih bahagia deh, ngapain ribet?’. Tapi kalau seperti itu kayanya malah jadi membosankan (buat saya) ;p

Trims for Your Comment..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s