Wanita Lagi? ( Part II)

“You don’t have to be Anti-Man to be Pro Woman”

Jane Galvin Lewis

~~~~

Terbitnya wacana tentang wanita part II ini didasari keputusan saya untuk berhenti berlarut – larut dalam kompleksitas dominasi sisi intuitif wanita yang incredible.  Lagipula wanita sekarang lebih kelihatan berkarakter dan cerdas ( apalagi yang seorang blogger, uhuk.. uhuk.. ). Cekidot..

  • “Sistem pendidikan sekarang yang lebih ngutamain kinerja otak kiri akhirnya mencetak intelektual kaku dan membunuh kreatifitas”
  • “Manusia memang makhluk sosial, tapi aku dan mungkin sebagian orang, sadar ternyata kita membutuhkan dan menikmati waktu – waktu untuk sendiri, saya heran ada yang nahan lapar cuma karena g ada teman buat makan”

  • “Kalau buat saya pribadi sih ogah ngambil gambar org lain, lbh bergengsi pakai foto sendiri apapun keadaannya, melanggar atau engak tergantung bloggernya masing masing ya”
  • “Saya kadang suka sendiri dan kadang suka rame juga, dan saya sebut itu ‘Half- Anti-Social!!'”(backsound tabuhan genderang dan kembang api)”
  • “Ngapain cewe harus risih belajar gitar, manusia punya struktur tulang jari yang sama kan”
  • “Pengakuan dan Pujian orang lain itu bukan parameter,semacam multivitamin,mungkin kita butuh, over dosis juga tidak baik lho”

Jadi speachless sambil senyum sendiri.
( maaf ya, quotes nya dipake, buat belajar 🙂 ).

Berdiskusi dan menganalisa sisi realitas secara objektif dengan wanita memang bukan hal yang tabu lagi (justru menarik).  Tidak seperti pada masa perjuangan R.A Kartini, dimana wanita tidak memiliki kebebasan, dapur menjadi tempat yang dianggap pantas untuk keseharian mereka yang diangap kaum lemah, eksploitasi tanpa batas oleh para bangsawan, ditambah lagi hukum adat dan pengaruh kolonialisme. Pointnya adalah, kondisi sekarang dengan tempo dimana Kartini berada sangat berbeda. Era moderen nyatanya memberi ruang bagi wanita untuk melakukan hal yang dulunya hanya bisa dilakukan oleh pria, wanita kini memiliki visi dan tujuan hidup yang jelas, kepercayaan diri akan kemampuan, juga memiliki harkat dan martabat yang diakui. Saya rasa tepat memandangnya sebagai buah dari perjuangan emansipasi. But, mohon maaf sebelumnya, menurut saya ternyata saat berusaha memaknai realitas dalam beberapa hal, wanita terkesan emosional dan kadang menjadikan feminsime sebagai tameng. Saya sadari wanita tentu memiliki penilaian sendiri atas pribadi masing-masing, karena pada dasarnya wanita dan pria memiliki sudut pandang yang bertolak belakang dan pemahaman yang seringkali tak sama, well. Saya mengerti sekali dan sangat menghargai harmonisasi yang terjadi. so, saya akan mulai dengan konsep feminisme & emansipasi, let’s thinking…

                              Tahun 1785 di Belanda, menjelang abad 19 feminisme lahir menjadi gerakan yang mendapatkan perhatian dari para perempuan Eropa. Wanita di masa itu memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai universal sisterhood.  Faham ini lantas berkembang menjadi sebuah gerakan di negara-negara barat tahun 1970an. Saat itu segelintir wanita yang diklaim sebagai feminis, berjuang untuk memperoleh hak-nya, salah satunya adalah perempuan ingin mendapatkan akses untuk pekerjaan yang layak, akses pendidikan, dan hak-nya untuk berpolitik. Singkatnya, perempuan menuntut hak yang sama dengan yang kaum laki-laki dapatkan. Faham ini inipun terus berjalan, seiring dengan berkembangnya gerakan perempuan di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

              Di Indonesia sendiri para feminis sangat percaya bahwa domestifikasi wanita merupakan bagian dari dominasi budaya patriarkhi yang telah terdoktrin dari berbagai komuniats dan sistem sosial. Bahkan Feminisme Theologis menyeret agama sebagai dalang  yang melanggengkan kondisi “unfair” ini. Lalu munculah slogan – slogan atas nama emansipasi “Mari kita tinggalkan pekerjaan rumah tangga, karena semua itu telah mengungkung kita untuk berkarier dan menghilangkan kesempatan kita untuk berkreatifitas. Bergulat dengan sumur, kasur dan dapur, hanyalah konstruksi patriarkhi yang dipaksakan bagi kaum wanita, yang kemudian berubah menjadi common truth untuk menindas kaum wanita.”

                 Secara pribadi saya mengerti teriakan feminis ini. Faktanya memang masih banyak wanita di berbagai belahan dunia yang menjadi subordinasi dari laki-laki, dan memang, beberapa dogma yang mengatasnamakan agama secara radikal melarang wanita berkiprah di ruang publik dengan alasan “wanita adalah fitnah terbesar bagi laki-laki“ lalu menakut-nakuti wanita dengan ancaman atas nama Tuhan, Saya bersedia mencibir hal tersebut demi wanita, but.. saya juga perlu mengkritik sikap-sikap ekstrim sebagian kaum feminis, seperti membiarkan penyimpangan perilaku seks, menjalin komitmen hubungan sesama gender karena merasa tidak membutuhkan laki-laki lagi. “Laki – laki itu sama saja, tidak punya perasaan ( lempar – lempar bantal )”, kemudian memandang sinis urusan domestik, segala hal tentang rumah tangga dan pekerjaan rumah.
Jadi.. apakah perkara domestik yang selama ini di sandingkan kepada kaum wanita murni berasal dari hegemoni budaya patriarkhi?

 Saya pernah membaca artikel dan resensi buku yang membahas tema sederhana; “Why men don’t iron” (Kenapa laki-laki tidak menyetrika). Ternyata isinya menjawab dengan lengkap pertanyaan diatas. Inti dari artikel ini adalah, “according to recent scientific research, gender differences exist because men’s and women’s brains work completely differently and their biological differences mean that they can never think or behave in the same way.” (Menurut penelitian ilmiah baru-baru ini, perbedaan gender terjadi karena otak laki-laki dan otak perempuan bekerja dengan cara yang sangat berbeda dan karena perbedaan biologis mereka, artinya,  mereka tidak pernah dapat berpikir atau berperilaku dalam cara yang sama). Lebih lanjut, artikel itu menjelaskan, dua sisi otak perempuan ( bagian untuk kemampuan verbal dan bagian untuk kemampuan spasial ) berkoneksi secara baik. Hal ini membuat wanita menjadi lebih fluent in speech (Rata-rata, wanita bisa berbicara dalam 6.800 kata per hari, sementara laki-laki hanya 2.400 kata) dan lebih baik melakukan pekerjaan dalam satu waktu dibandingkan laki-laki. Sementara, dua sisi otak laki-laki berada terpisah, sehingga mereka lebih cendrung fokus pada satu pekerjaan dan menghandle satu masalah dalam satu waktu.

                  Seringkali pekerjaan rumah tangga, adalah multiple task yang dikerjakan dalam satu waktu. Pada sebuah experiment yang dilakukan oleh British TV, dimana 6 perempuan dan 6 pria diminta untuk membuat kopi, membersihkan ruangan, memasak roti panggang, menerima telepon, mengepak barang ke dalam tas dengan waktu yang ditentukan, ternyata kaum perempuan melakukan kesemuanya lebih baik dibandingkan laki-laki. Saya tidak akan berspekulasi mengatakan itu disebabkan kebiasaan aatau suatu kebetulan. Faktanya karena kinerja otak perempuan memang lebih compatible melaksanakan beberapa pekerjaan dalam satu waktu.

Tulisan ini bukan bagian dari upaya saya sebagai pria untuk mematenkan teori “urusan rumah tanggan bukan tanggung jawab laki – laki” ( Pria tentu bisa menggunakan cara – cara ngeles yang lebih elegan 😛 ). Saya juga tidak akan lancang mengatakan pekerjaan rumah tangga memang pantas untuk wanita. come on ladies.. tanggung jawab ini bukan tentang pantas tidaknya bagi gender tertentu, tapi kalian memang yang terbaik yang bisa melakukannya.

jangan biarkan wanita layu oleh emansipasi yang berlebihan!
Think again ^^

Advertisements

42 responses to “Wanita Lagi? ( Part II)

  1. asmie rasa, pria dan wanita sejajar dalam segala hal dengan kapasitas masing-masing tanggung jawab, kenapa ada pria dan kenapa juga ada wanita karena keduanya saling melengkapi dengan segala keunikannya.
    tak mungkinlah tercipta sesuatu tanpa maksud.

  2. Menarik membaca opininya 🙂
    Soal urusan rumah tangga itu aku ngerti bahwa otak laki-laki dan perempuan memang beda, tapi bukan berarti lelaki gak bisa ikut andil di urusan chores ya 😀 Jadi aku bagi tugas pekerjaan RT yang ini aku yg kerjain, yang itu suami yg kerjain hihi.

    Btw ini agak OOT ya, tempo hari aku ikutan talkshow tentang makanan dan perempuan. Dihadirkan 12 perempuan dari banyak daerah yang sukses menghidupkan potensi pangan daerahnya sehingga memiliki penghasilan tambahan bahkan mampu memberi andil dalam denyut perekonomian daerah. Pas mereka sharing, tantangan utama mereka untuk berkarya pertama kali itu bukan soal dana, tapi soal skeptical pria yang mencibir kemampuan mereka, tidak percaya kalau mereka mampu bekerja dengan baik. Miris gak sih 😦

    • deal, peran laki lbih ke asisten sih (ngerti lah porsi asisten :-P)

      wah salut, saya mlihat sisi positifnya, sensitifitas wanita trnyata bisa mnjadi tmbahan energi untuk berkarya lebih. mmg manis saat mmbuktikan sesuatu yag diragukan.
      trims infonya mbak

  3. uhh.. sedikit iri, tp sy suka tulisannya. Dan memang faktanya demikian,. tugas, hak dan kewajiban tertentu wanita-pria memang mau tidak mau memang sudah berbeda. Selamat menjalankan porsi masing-masing : )

  4. rumah itu istananya wanita. Rumah itu adalah ladang pahala bagi wanita/ibu. Masak untuk suami dan anak2 ada pahalanya, mencuci pakaian suami ada pahalanya, melayani kebutuhan suami ada pahalanya, melakukan ibadah di rumah bagi perempuan pun pahalanya sama dengan laki-laki yang beribadah di masjid. Tuhan Maha Adil. Jadi, pekerjaan rumah tangga itu istimewa. Bahkan Tuhan menempatkan surga di bawah telapak kaki ibu. See? Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan, wahai perempuan. 😉

  5. Tidak sepakatt!! Kenapa kemampuan multi-tasking harus jadi pembenaran supaya para wanita jadi ibu RT coba? Kerja dimanapun juga banyak yang membutuhkan kemampuan itu kan? Hayo? haha

    Saya mah post-feminis aja, menikmati ke-gentle-an para lelaki asalkan tetap setara derajatnya ^^

Trims for Your Comment..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s