Perlukah Berdo’a?

                             Do’a mungkin merupakan suatu teori yang secara umum difahami setiap orang. Layaknya setiap udara yang kita hirup, berbagai konsep dan paradigma tentang “Do’a” seolah tercurah pada setiap wadah pemahaman manusia dengan atau tanpa melalui konduksi iman dan dogma – dogma sekalipun. Sebagian yang terkesan faham, menspesifikkan do’a sebagai ritual teknis sesuai kondisi dan waktu – waktu tertentu, sebagian lagi latah dengan konsep universalitas segala nilai dan pada akhirnya berimbas pada lahirnya bermacam – macam slogan jagat raya “The Power of Prayer”, “how to do nothing and still think you’re helping”, “niat,usaha dan do’a”, “prayer! is the best armor agains all trials”,”don’t panic, just pray”…. dan rangkain kata – kata indah lainnya. Lantas apakah do’a yang diyakini begitu istimewa tersebut terbatas pada basa – basi motivasi belaka? Atau justru terlalu istimewa sehingga dianggap sebagai senjata andalan terakhir saat tidak ada lagi pilihan? atau semacam media pengaduan imajiner tanpa batas tanpa norma?

                               Sepertinya lebih bijak jika kita coba mengurai dengan  apa adanya. Tidak ada salahnya menjadi benar – benar “innocent” untuk beberapa saat. Apakah manusia memang tidak bisa terlepas dari kebutuhan akan do’a? Mengapa kita harus berdoa? Apa gunanya berdoa? Mengapa sesuatu yang maha dahsyat yang diaykini sebagai sasaran do’a kita harus menunggu kita berdoa baru melakukan pekerjaanNya? Kalau apapun itu sangat menentukan segalanya, lalu mengapa seolah Ia bergantung pada do’a kita?
Bahkan disaat membahas konsep do’a dalam faham keTuhanan-pun, tetap akan muncul pertanyaan baru. Apakah doa berlawanan dengan kehendakNya? Bagaimana hubungan doa dengan kebenaran? Mengapa kehendaknya yang tentu tanpa batas terkesan seolah – olah terpengaruh dengan pengharapan kita? Jikapun konsep penyesuaian terhadap do’a itu mutlak, mengapa Dia rela membiarkan kehendak-Nya dan kebenaran-Nya tertunda dan tidak terlaksana, hanya karena menunggu kita berdoa?
Lalu bagaimana dengan konsep – konsep dalih yang terlihat kontradiktif? Berdo’a lah dan yakinlah karena Ia maha pengabul, saat tidak terkabul? Ia akan menyesuaikan pada saat yang tepat. Saat yang diharapkan berbeda dengan yang didapat? Ia memberi yang kamu butuhkan bukan yang kamu inginkan karena Ia lah yang mengetahui mana yang terbaik buatmu, jadi do’a itu tidak harus memuat keinginan – keinginan kita? Sebuah enegma. Saya rasa pemikiran seperti ini pernah terlintas dibenak kita semua.

                          Banyak masukan yang mendorong penerapan Pandangan epistemologi realisme yang merujuk dasar-dasar metafisika atau ontologinya dalam menginterpretasikan esensi dari do’a. Epistemologi realisme beranjak dari tiga tingkatan kebenaran yang diakuinya, yaitu kebenaran sensual, logis, dan etis. Pengakuan terhadap kebenaran sensual, logis,dan etis menunjukkan realisme mengakui indera, akal, dan juga hati (akal-budi) sebagai alat perolehan ilmu pengetahuan.  Karena itu, seperti rasionalisme, raealisme menganut sistem epistemologi nomethetik. Yaitu sistem epistemologi yang berupaya membuat hukum melalui generalisasi, melalui telaah hubungan sebab-akibat. Tidak ada akibat tanpa sebab demikian sebaliknya tidak ada sebab tanpa akibat. Pada satu kesempatan, seorang rekan akhirnya membuat spekulasi frontal berlandaskan teori tersebut dalam faham realisme metafisik.

Do’a itu konsep yang merusak diri, kenapa?
Tidak ada manusia yang tidak dihajar masalah dalam hidup
Tapi mereka, menyelesaikannya dengan cara yang berbeda.
Dan cara yang paling merusak adalah dengan cara berdo’a
Dengan cara meminta pertolongan pada kekuatan lain yang misterius diluar dirinya
Kenapa berdoa itu merusak diri?
Karena do’a, tidak pernah bisa menyelesaikan masalah kongkrit
Do’a, tidak pernah mengubah kenyataan.
Dengan berdo’a, pelaku sebenarnya hanya melakukan pelarian psikologis dari kenyataan
Pelaku, tidak berani menerima kenyataan yang menimpa dirinya
Dan melakukan kompensasi psikologis dengan cara menjerit secara imajiner
Artinya pelaku, pada hakikatnya adalah pribadi yang egois dan malas.
Keras kepala secara terselubung.
Diluar, bertampang sendu dan mulia
Tapi didalam, hati mengeras, agar dirinya steril dari segala masalah
Dan segala impiannya terkabul sudah.
Mereka, adalah tipologi manusia pemimpi kesempurnaan.
Padahal, semua itu hanya sebuah obsesi yang utopis.
Lalu adakah cara lain yang lebih positif selain berdo’a?
Tentu saja ada.
Sambil menggigit bibir mereguk tangis
Lakukanlah usaha kongkrit sejauh yang bisa dilakukan
Lalu sisanya, terima apa yang terjadi sebagaimana adanya.
“Doa, hanya placebo untuk manusia bodoh
Khasiatnya, hanya bekerja dalam status seolah-olah”

                               Sebuah teori yang seakan menampar kita yang cendrung menafsirkan nilai do’a sebagai pelarian saat mengalami kebuntuan, sebuah pelampiasan berkedok penyerahan diri. Jadi bagaimana menguji kebenaran teori tersebut? Mungkinkah kita sebagai manusia bisa terlepas dari koherensi sebuah do’a? Untuk menguak misteri tersebut sebaiknya kita fokuskan pembahasan pada konsep diatas terlebih dahulu. Lupakan sejenak substansi etis pragmatis dalam mendefiniskannya. Saya mnyimpulkan pernyataan tersebut didasari konsep tiadanya eksistensi keIlahian. All right, tidak ada salahnya kita ikut aturan main (kita singkirkan sejenak keharusan adanya Tuhan). Kata kunci dari pernyataan tersebut adalah sebuah skematis keterikatan / ketergantungan : “Problem – Penyampaian – Pengharapan – Solusi – Kenyataan”. Rasanya skema tersebut mnyempitkan makna “do’a” karena orientasinya hanya sebatas “penuntutan penyelesaian masalah” yang memang harus berkorelasi dengan subjek tertentu “bantulah, tolonglah, selesaikanlah, berilah, jadikanlah, kabulkanlah”.

Mungkin sebagian akan terfikir memang usaha kongkrit itu lebih masuk akal daripada sebuah do’a yang masih mengantongi kemungkinan – kemungkinan ( ya, nanti, belum, tidak )? Tapi benarkah kita memang selalu melakukan hal – hal yang masuk akal?

                          Sekarang kita perluas pada konteks situasi dan personal, Saat seseorang berkata “semoga” atau “mudah-mudahan” ia sesungguhnya sedang berharap pada situasi diluar dirinya sendiri (tidak harus Tuhan). Apakah anda berfokus pada Tuhan saat anda dengan spontan berkata “mudah – mudahan hari tidak hujan” padahal sama konteksnya dengan do’a “Ya Tuhan jangan turunkan hujan hari ini”. Itu karena turun dan tidaknya hujan bukan merupakan sesuatu yang bisa kita kendalikan, hujan adalah suatu fenomena diluar diri dan kita bisa saja bergantung pada fenomena tersebut. Jika anda tidak setuju, coba bayangkan usaha kongkrit dan paling masuk akal untuk mempengaruhi fenomena hujan tersebut!. Saya akan memaparkan sesuatu yang lebih abstrak. Saat anda dalam masa penantian moment penting dalam hidup anda, tentu terbersit dalam hati “semoga saja pada harinya nanti berjalan dengan lancar”. Itu jelas tidak mungkin tidak bagi setiap yang berfikir. Ada pengharapan disana yang tentunya bukan pada diri anda sendiri karena apa yang terjadi nanti bukan sesuatu yang bisa dikontrol oleh anda. lalu berharap pada apa? dimensi? jagad raya? masuk akal bagi anda? Artinya berdoa ataupun tidak kita tetap akan bergantung pada harapan, sesuatu diluar diri kita.

                               Seorang kakek dan pemuda suatu ketika berada pada satu kapal yang hampir tenggelam. Sang kakek mulai berdo’a sementara pemuda terus berfikir cara untuk menyelamatkan diri. Pemuda itu berkata “Jika do’amu membuat kapal ini tidak jadi tenggelam, aku akan percaya Tuhanmu” lalu kakek menjawab “Berdo’a atau tidak, kapal ini mungkin tetap akan tenggelam, kita semua mungkin akan mati disini, jadi aku hanya berharap tau tempatku kembali”

Doa mungkin tidak mengubah keadaan, tapi mampu mengubah cara pandang kita.
Doa tidak mampu mengembalikan mereka yang dicintai, tapi mampu memberikan kebahagian bagi mereka.
Doa  tidak akan mampu mengulang waktu, tapi mampu membuat kesempatan datang kembali.
Doa tidak selalu mampu mengubah penyesalan masa lalu, tapi mampu mengubahnya menjadi harapan.

Kita kadang tidak menyadari,  apapun yang kita sebut do’a seringkali secara ajaib membawa perubahan dalam hidup…  think again

Advertisements

8 responses to “Perlukah Berdo’a?

  1. doa itu…menguatkan hati dan jiwa untuk bisa tegak melalui dan menghadapi segala masalah,
    krn dlm doa ada harapan,
    dlm harapan ada kekuatan dan kehidupan 🙂

Trims for Your Comment..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s