Hikmah Sebuah Paradox

Definisi umum paradox adalah suatu situasi yang timbul dari sejumlah premis yang diakui kebenarannya yang bertolak dari suatu pernyataan dan akan tiba pada suatu konflik atau kontradiksi.

“”I always lie” is a paradox because if it is true it must be false”

                     Berbicara tentang paradox, setiap orang tentu memiliki sudut pandang yang berbeda. Ada yang menilainya sebagai problem tak terpecahkan dan memang bukan untuk dipecahkan, Alur logika yang berlawanan dengan rasionalitas, Siklus konsep infinity, dua kebenaran yang menyatu tapi saling bertentangan, bahkan bagi sebagian yang apatis, paradox hanya dianggap  sebuah permainan semu logika  kata – kata. Memang konsep yang rumit sekaligus menggelitik untuk di ungkap.  Jika boleh dianalogikan paradox itu seperti saat melempar uang logam dan akhirnya jatuh tidak di kedua sisinya, dan itu mungkin saja terjadi ( Silakan berlatih sendiri )

                    Mari mencoba ( izinkan saya ) merumuskan korelasi antara karakter paradox dengan hakikat manusia. Suatu paradox selalu mengarahkan situasi pada ‘Kontradiksi’ atau suatu pernyataan yang memuat hal-hal yang saling bertolak belakang, terlepas dari benar dan salah, baik dan buruk, kita anggap nilai adalah bagian dari subjektifitas intuitif – rasional.  So, kontradiksi itulah yang sebenarnya menjadi kata kuncinya.
“Kontradiksi” = Bertolak Belakang = Berkebalikan = Tidak Sesuai. Lalu bagaimana jika dianggap kontradiksi pun sebenarnya terjadi dalam diri manusia melalui kemunafikan? Tidak perlu menjurus ke suatu faham, dogma dan ajaran – ajaran tertentu, jadi perhatikan contoh sederhana ini; Pyrrhonisme adalah aliran skeptis dimana mereka cendrung meragukan semua hal. “Di dunia ini tidak ada yang pasti”. Mungkin anda pun pernah mendengar pernyataan seperti itu, atau mungkin itu pernyataan anda sendiri. Untuk membuktikan bahwa pernyataan ini munafik ( kontradiktif ), ajukan pertanyaan ; “Apa kamu yakin?”
Akan terdengar sangat munafik pernyataan ; ”Saya yakin bahwa di dunia ini tidak ada yang pasti”. pointnya adalah hal tersebut paradox, Seseorang yang menjadikan keraguan pada semua hal di dalam hidup ini sebagai prinsip hidupnya, maka ia juga telah meragukan keraguannya sendiri.

                 Sekarang cermati makna dalil “jangan melarang, berilah orang lain kebebasan!”. Dalil ini biasa digunakan untuk membuka jalan terhadap perbuatan yang tidak disukai oleh kelompok yang berseberangan. Dalihnya adalah kebebasan, liberalisme, hak asasi. Pada dasarnya prinsip ini juga paradoks. Kata JANGAN dan TIDAK BOLEH adalah kata melarang. Jadi jika anda di posisi pihak yang diserang oleh dalil “Dilarang melarang”, anda berhak bertanya “Lho kok anda melarang saya untuk melarang, berarti saya belum bebas dari larangan anda untuk melarang”.  “Jangan melarang” adalah larangan juga jadi orang yang menggunakannya munafik karena sejatinya ia telah melarang dirinya sendiri untuk melarang orang lain yang melarang ( jgn diulang – ulang bacanya ). Ini disebut Self Defeating Principles yang tidak akan berujung dan menyesatkan.
Contoh serupa yang sedang marak terjadi yaitu slogan tentang pluralisme. Pluralisme mengatakan bahwa “Semua aliran pada hakekatnya sama dan harus saling menghargai eksistensi keseluruhan”. Ada satu hal yang mereka lupa, yaitu: aliran yang memusuhi dan mau membasmi mereka juga seharusnya diperlakukan sama dan merupakan bagian masyarakat pluralis.
Aliran pluralisme sebenarnya menghendaki tatanan masyarakat yang tidak plural. Saya akan tunjukkan dengan pertanyaan ini. Mana yang pantas disebut (lebih) plural?
1.    masyarakat yang hanya mengakomodasi aliran pluralisme.
2.  masyarakat yang mengakomodasi aliral pluralisme, aliran pembasmi pluralisme, aliran membenci pluralisme, aliran yang bertentangan dengan pluralisme.
Tentu esensi pluralisme yang sesungguhnya harus mengakui segala aliran termasuk aliran yang tidak mengakui pluralisme itu sendiri. Jadi konsep pluralisme termasuk dalam kategori munafik /kontradiktif /paradox.

Mari kita menuju prinsip yang dianggap paling asasi bahwa: “Manusia mempunyai kebebasan untuk berbuat menurut kehendaknya”. Konsekuensi logisnya ialah: “Siapa saja bebas menghapuskan prinsip kebebasan tersebut”.
Lihat, hanya perlu satu kalimat untuk membuktikan point utamanya bahwa kebebasan tidak ada dan paham kebebasan adalah paradoks. “Hargailah Pendapat orang lain, jangan merasa paling benar” Padahal kalau sungguh – sungguh ingin menghargai seluruh pendapat seharusnya bisa menghargai juga pendapat orang lain yang menganggap pendapatnya yang paling benar (Kacau!)

                        Sekarang mari mencoba mengikutsertakan konsep theologi. Mungkin akan membuat beberapa pihak gerah karena risih untuk mencari kebenaran Tuhan, atau sebagian orang enggan berpikir mengenai eksistensi Tuhan karena pemikiran umum bahwa Tuhan tidak patut untuk dipertanyakan, melainkan harus diterima begitu saja sesuai ajaran kepercayaan masing – masing. Saya tidak tau pasti takaran dosanya, dan siapa yang mungkin tau? Tapi rasanya tidak ada salahnya menjadikan Tuhan sebagai objek berpikir, selagi dalam batas kemampuan kita, dan keyakinan bahwa kesimpulan kita bukanlah kebenaran universal melainkan suatu hipotesis yang sifatnya personal. Ada yang menagnggap mempertanyakan Tuhan merupakan makar dalam beragama. Jika Anda sepakat maka Anda tidak perlu meneruskan membaca tulisan ini, tetapi jika Anda  merasa yakin mempertanyakan Tuhan – sampai batas tertentu – justru dapat meningkatkan kualitas keimanan karena tidak hanya sekedar meyakini Tuhan secara buta tetapi juga karena Anda menyelaminya, mari bersama mencari cahayaNya.

sistematika yg seperti paradoks.
jadi jika secara alami kita “terfikir” tentang apapun yang kita yakini sebagai Tuhan, mungkin akan dijawab itu sepenuhnya akibat fikiran yang kita miliki.
Lalu apa penyebab kepemilian kita tersebut menyadari apapun yang diyakini sebagai Tuhan? itu disebabkan memori kita tentang pemikiran2 pihak lain akan Tuhan.
Lalu disaat kesadaran kita akan Tuhan itu secara konsep berbeda dengan pemikiran2 lain tentang Tuhan? itu disebabkan oleh logika yang menganalisa kemungkinan2 yang terjadi.
Lalu jika sesuatu memang memungkinkan, apakah ia harus independen terhadap pilihan antara benar dan tidak? yang sesungguhnya memang hanya 1 pilihan.
Saat tidak bisa dibuktikan? kita ambil kemungkinan yang paling mungkin.
saat teori tentang kemungkinan itu relatif?
kita kembali kepada diri kita masing masing
lalu saat kembali pada diri kita “terfikir” ternyata apapun yang disebut Tuhan itu tidak ada? itu sepenuhnya akibat fikiran yang kita miliki.

                            Kita lanjut ke omnipotence paradox, omnipotence berasal dari kata bahasa Latin yakni omne yang berarti segalanya/semuanya dan potence yang berarti kemampuan atau kuasa. Dalam Bahasa Indonesia, dan dalam pemilihan makna yang sesuai jika kata itu kita yakini melekat pada kata Tuhan, omnipotence setara dengan maha kuasa. Anda pastinya telah sering mendengar, beginilah isi dari omnipotence paradox itu:
“Dapatkah Tuhan menciptakan suatu benda yang begitu beratnya(masif)  hingga Ia sendiri pun tak dapat mengangkat benda itu?”
Analisis pertama mengenai jawaban yang mungkin ialah jika jawabannya ‘ya’, berarti Tuhan tidak maha-kuasa karena Ia tidak mampu mengangkat benda.  Jika jawabannya tidak, berarti Tuhan tidak maha-kuasa karena Ia tidak mampu menciptakan benda seperti yang dimaksud.
Bagaimana mungkin Tuhan menjadi “Maha Kuasa” sekaligus “Tidak Maha Kuasa”?. Secara personal saya akan mencoba menjawab (terutama untuk saya pribadi) dengan analisa sifat – sifat Tuhan yang lain. Kata “MAHA” saya pertegas kembali secara definisi umum berarti segala – galanya, tidak ada yang tidak, luar biasa, total, mutlak. Jika Anda kurang setuju dengan definisi tersebut, maka maklumilah kesimpulan saya selanjutnya karena akan didasari oleh definisi di atas.
* Maha-Bijaksana ^ maha-Berkehendak
* Maha-kuasa ^ maha-baik.
* Maha-adil ^ maha-pengasih.
                        Perhatikan sifat – sifat yang kita yakini melekat pada Tuhan dan mari kita analisa.  Bagaimana Tuhan menjadi Maha Bijak jika Ia Maha berkehendak? Jika Ia maha berkehendak Ia tentunya berkehendak atas apapun termasuk atas ketidakbijaksanaan. Bagaimana Tuhan bisa menjadi Maha Kuasa sekaligus Maha Baik?  Jika Tuhan maha-kuasa, jelas ia tidak maha baik. Sebaliknya jika Ia maha-baik maka ia tidak maha-kuasa. Jika ia berkuasa atas segalanya – juga atas kejahatan dan kezaliman, tentunya. Maha-kuasa berarti maha atas segalanya, mampu melakukan dan menciptakan kejahatan karena Ia berkuasa dan dapat merealisasikannya. Tapi kemaha-kuasaan itu menjadikan ia tidak maha-baik. Sebaliknya jika Ia maha-baik, itu menjadikan-Nya tidak kuasa atas segala ketidakbaikan. Jika Tuhan maha-adil, berarti Ia tidak maha-pengasih, karena keadilan tidak mengenal kasih dan kasih bukan persoalan keadilan. Hal ini tentunya tidak asing dalam realita, karena biasanya (mungkin tidak selalu) keadilan tidak dapat tegak setegak-tegaknya jika ada rasa kasih yang mengikutinya. Begitu pula kasih cenderung membuat kita tidak mampu bersikap adil. Tentunya ini tidak berarti tidak mungkin memunculkan adil dan kasih secara bersamaan, tapi bagaimana pun rasa adil akan mengurangi rasa kasih dan rasa kasih akan mengurangi rasa adil. So, apakah Tuhan sesungguhnya tidak maha kuasa?
Kita terkadang terlalu terfokus mendefiniskan sesuatu diluar diri kita, mencari batasan – batasan dimensi semesta agar sejalan dengan pemahaman kita, meraba – raba kompleksitas dengan nalar ego pribadi, tanpa kita sadari sebenranya kita akan selalu kembali mengungkap hakikat diri sendiri.
Mungkin pelajaran tentang paradox ini akhirnya mengingatkan akan keterbatasan diri sebagai makhluk Tuhan. Berkaca pada pertanyaan tentang Tuhan tersebut kita tentu menyadari dan mengalami kalau ternyata kita bisa dibuat begitu bingung oleh fikiran kita sendiri.
Tuhan adalah kegelapan tak terhampiri….
menarik perhatian dan rasa ingin tahu..
namun menggetarkan saat didekati…( Rudolf Otto )
                        Mengapa Tuhan yang maha Berkehendak dengan anggunnya  membiarkan sebab-akibat berlangsung sewajarnya, manusia lahir pada waktunya, Bunga gugur dan mekar pada saatnya, Air selalu mengalir pada jalurnya, Siklus Cuaca yang periodik. Tuhan maha Kuasa tapi Ia dengan arifnya berkuasa atas berjalannya rencana kita, atas harapan kita yang terkabul, atas mimpi – mimpi yang terwujud. Tuhan maha adil dan dengan kasihNya mengajarkan kita tentang hikmah – hikmah dan pelajaran berharga dibalik setiap keraguan kita akan keadilanNya.
Lantas apakah kita melihat unsur kemunafikkan padaNya?

                         Tuhan adalah Mahakuasa dan sangat Ajaib dengan kemahakuasaan dan keajaiban yang dibatasi oleh diriNya sendiri. Dapatkah Tuhan menciptakan segitiga datar yang bulat? Dapatkah Tuhan menciptakan orang yang sangat jahat sekaligus sangat baik? Dapatkah Tuhan menghancurkan diriNya sendiri dengan kekuatan yang Dia miliki? Tentu saja saya yakin hal-hal tersebut tidaklah dilakukan karena DiriNya sendiri tidak seperti itu, artinya kemahakuasaanNya dibatasi oleh diriNya sendiri.

Tuhan adalah tidak terpikirkan oleh manusia, artinya meskipun kemahakuasaanNya terbatas oleh diriNya sendiri, kita tidak dapat menyelami dengan sempurna tentang kemahakuasaanNya karena tidak satupun yang dapat memahami tuntas tentang Tuhan itu sendiri, artinya keterbatasan kuasa Tuhan yang dibatasi diriNya sendiri tetap saja tidak dipahami manusia sehingga kemahakuasaanNya tersebut ketika ditunjukkan kepada manusia selalu akan membuat kita takjub, seperti jika kita mendalami bagian-bagian tubuh manusia, ternyata banyak sekali tersingkap hal-hal yang sangat ajaib yang jauh diluar kemampuan manusia, juga jika kita mulai memahami alam ini dari skala mikro (skala partikel elementer) sampai skala makro (skala super kluster alam semesta), selalu akan membuat kita takjub akan kemahakuasaanNya.

                            Tentunya Tuhan mampu membuat Materi apapun seberat apapun, namun sebagai suatu materi yg memiliki keterbatasan, apakah materi tersebut mampu menerima sifat kemahaberatan dari sang pencipta? atau bisakah materi tersebut memasuki dimensi imateri? Sungguh kita tidak akan pernah menjangkau Kemahakuasan sekaligus KetidakmahakuasaanNya.
Apakah akhirnya anda menjadi bimbang akan kuasa Tuhan setelah membaca tulisan ini? Atau anda menganggap ada upaya – upaya saya untuk menggeser konsep keimanan anda? semua saya kembalikan kepada hak pribadi masing – masing..
Dalam Keraguan ada pencarian…
Dalam Iman ada perenungan…
(Realitas lebih penting dari fanatik Buta : Ibnu Shina)
Think Again..

.

Advertisements

15 responses to “Hikmah Sebuah Paradox

  1. Pingback: My Corner (Untuk Wanita) | Let's Thinking...

  2. Membaca tulisan ini menumbuhkan berbagai macam pernyataan “infinite loop” dalam pemikiran saya. Memusingkan.
    Kalau pendapat saya pribadi, teka-teki tentang paradoks yang berhubungan dengan konsep ketuhanan tak bisa dipecahkan manusia. Karena itulah yang membedakan Sang Pencipta dan ciptaannya.
    Hmm, jangan-jangan pendapat saya itu juga berbau paradoks? Haha

    • harus rela berpusing demi belajar bro 🙂
      intinya ttg kontrol ego dan introspeksi aja
      kebenran yg kita yakini pun trnyata bisa bertentangan dgn kebenaran dari sudut pandang lain.

  3. wow…
    artikel yang tadinya saya pikir ringan… tapi ternyata cukup berat juga untuk dicerna. tapi memang inilah adanya di dunia ini kan.
    thx ya bro buat sharingnya.

  4. Pingback: Combo Contradictive ( Paradox Part II ) | Let's Thinking...

  5. Pingback: Bebaskan Ego [ Existensialism II ] | Let's Thinking...

Trims for Your Comment..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s