Apakah Engkau Masih Menggendongnya!?

 

Dua orang rahib sekali waktu berjalan
bersama dan mereka harus melewati suatu
jalan berlumpur. Lebih parah lagi, hujan
sangat lebat turun…

Tibalah suatu saat
mereka bertemu seorang gadis cantik
yang mengenakan kimono sutera dan selendang
indah yang melingkari pinggangnya.
Si gadis jelita ini tak bisa menyeberangi
persimpangan jalan yang penuh lumpur…

“Mari sini, Nona,” kata rahib yang
pertama. Ia akhirnya membopong si
nona cantik tersebut dengan kedua tangannya,
sang rahib membawanya
menyeberangi jalan berlumpur itu.

Sepanjang perjalanan rahib kedua
tidak berkata sepatah katapun,
dalam hatinya ia merasa jengah
melihat perbuatan rekannya yang
menurutnya tidak pantas dilakukan
oleh seorang rahib.
Ia pun membayangkan kemungkinan
terburuk…

Hari – hari berlalu namum masih jelas
diingatan rahib kedua perbuatan rekannya
di masa lalu…
Ia semakin larut dalam bayangan
bawah sadarnya, disatu sisi ia merasa perlu
menyampaikan kegelisahannya namun disi
lain ia merasa tidak pantas mengungkit
kembali perbuatan seseorang yang telah lalu..

Akhirnya pada suatu ketika
saat malam larut dan mereka berdua
berada di kelenteng untuk bermalam,
sang rahib kedua tak dapat lagi menahan diri,
lalu berkata ketus dan dengan
nada tak senang. “Kita para rahib
tidak boleh mendekati apalagi
menyentuh kaum perempuan,”
tegasnya. “Sangat berbahaya, Apa kau tidak
memikirkan dosanya bagi kita?
Mengapa engkau melakukan hal itu?”

Lalu rahib pertama berkata..
“Aku telah meninggalkan gadis
itu di sana… Apakah engkau masih
menggendongnya?”

***
Apa makna cerita tersebut??
Tidak, tidak.. saya tidak bermaksud mempermainkan dogma tentang wanita.
Lebih jauh, cerita ini menyatakan bahwa hal yang paling menentukan siapa diri kita
bukanlah terutama tingkah laku kita secara fisik, melainkan apa yang mengisi pikiran kita.
Pikiranlah cerminan diri kita sesungguhnya.

Siapa atau apa kita ini, ditentukan oleh isi pikiran kita..
Rahib pertama sudah tak
memikirkan si gadis jelita yang
telah dia bopong menyeberangi
jalan berlumpur. Tetapi si rahib
kedua, kendatipun dia tak pernah
membopong si gadis itu,
sebenarnya dialah yang terus
membobong si gadis jelita itu
dalam pikirannya yg tak pernah
melupakannya. Si rahib kedua
inilah yang terus berada dalam
bahaya dan dosa karena bersentuhan dengan si
gadis jelita itu, lewat pikirannya.

Lagi pula, rahib pertama memutuskan
mau masuk ke dalam bahaya demi menghindarkan
orang lain dari bahaya terjatuh ke dalam kubangan
lumpur. Dia memilih berkorban secara moral
demi keselamatan orang lain. Pikiran
semacam ini adalah pikiran yang tercerahkan,
yang membuahkan kebajikan..

Melanggar syariat/moralitas umum,
malah menabur kebaikan.
Mempertahankan moralitas
umum, malah tak menghasilkan
kebajikan apapun.

Suatu paradoks!

Paradoks-paradoks, itulah yang
diungkap oleh banyak manusia di negara ini tentang kekakuan, hal – hal yang diyakini tapi malah diskriminatif,terkotak-kotak dalam kebuntuan nurani membelenggu kebajikan universal.

Think again..

Advertisements

2 responses to “Apakah Engkau Masih Menggendongnya!?

Trims for Your Comment..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s