Lembaga, Dogma, Dewa masak & Merk Kompor

Simpulan diskusi random [18+] Netralkan  hati, jernihkan fikiran, tepiskan ego, semua kembali hanya padaNYa.

FENOMENA:

Tinjauan Filsafat bertolak dari Titik Timbang: [Jika, dan hanya jika] semakin banyak orang yang tetap mempercayai keberadaan Tuhan dengan (namun) tidak lagi mempercayai keberadaan lembaga agama, maka?
Mari kita urai dengan amburadul ( Logika tetap main ) Let’s Thinking..

Pertama – tama yang menjadi perhatian tentu apa fungsi lembaga agama dan segala kegiatanya dalam kaitanya dengan eksistensi Tuhan? Pihak yang berpikir & mengambilkan keputusan bagi kita? atau agar kita tidak usah capek-capek mikir ataupun bingung saat kita harus mengambil sikap? Atau agar baik pikiran, keputusan maupun sikap kita (dari mereka) yang kita jalankan itu- sesuai dengan kehendak Tuhan menurut mereka maupun berdasar standar mereka? Atau bagaimana?

Kita coba gunakan pola kerangka dasar alam semesta terlepas dari keyakinana apapun.
Alam > perubahan – berproses dari satu bentuk ke bentuk lain mengikuti bentuk yg lebih kuat.
Paradigma luar biasa awam kira – kira seperti berikut :
Manusia > berubah fisik dan jiwa nya.
Bentuk kuat acuan manusia :
Tuhan : kebaikan, keselarasan dengan alam, kedamaian dll..
Setan / Iblis : merusak, kehancuran.
Agama : katalisator / sesuatu yg membuat perubahan dalam jiwa manusia mendekati sifat ( menuju ) Tuhan.

Tapi aplikasi dlm hidup tentu tak semudah membalik telapak tangan. Banding:

Kita gunakan pola kerangka berpikir linier terlepas dari benar-tidaknya ajaran.
Lembaga — > ideology lembaga –> berproses dari satu bentuk ke bentuk lain guna pencapatian target ke-lembaga-an (kemasalahatan / kesejahteraan / kebaikan/ bagi umat masing-masing) maupun bagi seluruh umat manusia (berdasar standar dari masing-masing lembaga agama).

Ideologi lembaga –> Dinamis(?)/konstan(?).

Kita input referensinya Russel. ( Searching sendiri, rumit dibawa kemari)
Hipotesa kurang sopan dari saya ( tapi masuk akal ), ( jika ) agama seringkali tampil seperti lembaga – lembaga lain ( seperti kebanyakan ) yang berperan mengumpulkan dan mengontrol massa, maka abukankah agama justru menjauhkan manusia dari Tuhan?

Ditambah lagi klaim agama tentang ‘seperti apa dan bagaimana Tuhan itu’ bagi saya dan bagi anda dan bagi kaum anu kaum itu, bagi umat sini umat sana : maka hampir bisa dikatakan mendekati logika Tuhan majemuk. Untukku Tuhanku ( bukan kepercayaanku ).

Kembali ke sifat yang menjadi visi lembaga dogma :

Dinamis secara utuh > kombinasi konservatif, progresif, radikal
konstan secara utuh > ( ternyata ) harus tetap pada salah satu di antara konservatif, progresif, radikal.

Jika lembaga > mengikuti dinamis perkembangan dunia, ada nilai – nilai yg sifatnya konstan, ada nilai dimana harus progresif dan ada waktu dmana harus bersikap radikal?
Dan ternyata tidak ada yang konstan di jagat raya ini selain kecepatan cahaya 300.000 km/dtk. Ada tambahan?

Lalu bagaimana jika ide Tuhan personal hanyalah permainan analisa induksi deduksi. Kita bisa loncat – loncat dr induksi ke deduksi dalam proses mencari tergantung suasana jiwa? atau cari yang enak – enak aja? Mungkinkah? Kita analogikan kembali ( tetap amburadul )

Mau kejakarta banyak jalannya, tapi ketika anda telah memutuskan naik pesawat ditengah jalan tak bisa begitu saja beralih ke kereta api. Salah satu cara ya kembali ketitik kota awal. pun harga tiket, bayar calo dan jam keberangkatannya pun berbeda-beda ^^

Setelah cari – cari referensi ternyata ada fakta unik yang mengingatkan saya tentang Film ‘Life of Pi’ yaitu eksistensi ajaran FYI: Cao Dai >> salah satu sekte yang mencampurkan semua agama, mendewakan Muhammad- Yesus sampai budha, begitu pula bangunan peribadatannya. dengan tuhan satu yang disimbolkan dengan Eye of Providence (or the all-seeing eye of God). Menarik tapi silakan dikaji masing – masing, ini personal.

Lalu apakah agama yg dilembagakan sudah tidak relevan lagi? karena agama dengan seabrek aturan didalamnya membuat seorang hidup dalam ‘dua langit’, disatu sisi ia punya hak dan kewajiban sebagai warga negara dilain pihak menjadi warga agama dengan hak dan kewajiban yg ada didalamnya, tidakkah ini neorosis?

Kita balik lagi ke teori paradox konstan:
Konservatif,
Progresif,
Radikal, analogi asal lainnya

Pertama:
Kalau ‘Ide tentang Tuhan personal benar benar membuat gila’, bayangkan dengan keyakinan personal beberapa orang yang menganggap bahwa merokok dapat mengurangi ketegangan syaraf dan ngopi dapat mendongkrak kenikmatannya. Artinya : Dengan adanya pengaruh buruk ke-lembaga-an agama, bukan berarti pengaruh positif dan kegunaannya tidak ada, bagaimana dengan entry point ini?

Analogi ngasal berikutnya :
yang dihidangkan adalah masakannya hasil tanak nasi dan sayur, lodeh, sambel kecap juga pindang goreng tepung nya. tawar kan ke tetangga dengan skiap sopan dan ramah. kompornya cukup dirumah, apalagi bumbu rahasia dan ritual masaknya. Faham maksud saya?

Lakukan saja kebaikan, orang ga akan tanya agama kamu apa kok ( Alm. Gusdur )

Zaman sekarang ini pada ribut karena yang di pamerkan merk kompornya, harga kompornya, mengkilapnya serbet dapur, bukan hidangan yang bakal disantap tamu, tetangga atau rekan. Padahal saat menyantap makanan tidak pernah ada yang tanya apa merk kompormu kok enak masakannya? Memang pada kenyataannya ada sedikit fakta bahwa : lezatnya menu Opor Ayam, Ongseng Tahu-Buncis, Peyek Udang dan Sambel Goang yang terhidang dan ternikmati oleh publik ternyata ( bisa saja ) turut mendongkrak baik Merk Kompor maupun Dewa Masaknya. Tetapi bahwa politikus-politikus selalu mengangkat isu Merk Kompor dan Dewa Masak guna meraih suara / dukungan DAN peran serta Kepala-kepala Rumah Tangga ( pemuka-pemuka ) yang diuntungkan dengan kondisi tesebut turut memperkeruh inklusifisme dalam ber-spiritual, ini tidak perlu dibahas lebih lanjut disini.

Bagaimana menyikapinya? dan estimasi kedepannya adalah?

Tentu saja jika diteruskan akan semakin sengitnya perang diskon Merk-merk kompor, dan dewa masaknya (punyaku lho jika mau masak lezat ) yang akan semakin diributkan.

Maka kecerdasan masyarakat sangat berpengaruh agar masing – masing berlomba – lomba menghidangkan masakan jempolan untuk tetangga dengan sopan dan ramah tanpa pilih kasih, bukan lagi bawa – bawa kompor atau pancinya. Kalau sudah makan enak dan nyaman, dengan sendirinya masyarakat tak akan bertanya siapa Dewa mu dan apa merk kompormu. Dengan sendirinya juga akan gugur si pengiklan atau pemberi diskon kompor itu.

Isu berikutnya : Saat seorang anak yang kebetulan cerdas lahir, beranikah ia mengkritik dan / atau mengoreksi rumah tangganya sendiri? Atau jangan-jangan akan terjadi pendurhakaan anak-anak tersebut karena tidak turut mengiklankan Merk Kompor dan Dewa Masak mereka? Kemana anak-anak (Blue Generation?) ini dapat berkumpul guna menggerakkan kebersamaan sebagai katalis wacana yang demikian? sedang bersendiri-sendiri jelas bukan lawan bagi gerakan yang terorganisir (ke-lembaga-an)?. Saya kira bukan kapasitas saya untuk melanjutkan kerancuan analisa ini. Ini mutlak hak asasi setiap kita sebagai anggota dalam rumah tangga masing – masing.

Bukankah agama ditujukan agar hidup dapat tertata, terikat dengan hukum-hukum positif dalam komunitas humanisme dan mengambil makna. Dan seiring dengan pengetahuan manusia akan alam, dirinya, sesamanya dan keterhubungan di antara faktor – faktor tersebut maka kebathinan manusia pun akan semakin bertambah..

Dari perspektif agama, ketika pemahaman manusia berubah dan semakin maju, agama selayaknya menuntun dengan jujur ( tanpa kenaivan ) Sebab kalau tidak, maka ia sendiri harus bersiap- siap ditinggalkan oleh manusia- manusia non dogmatis yang menolak pengkotakan kemanusiaan dan dinding primordial.

Cukuplah konflik yang mengatasnamakan agama dan Tuhannya

Kita lebih memerlukan kemanusiaan, kejujuran dan intelektualitas daripada kefanatikan buta yang sudah jelas – jelas menorehkan diskriminasi, penindasan, kekerasan dan darah. Sejarah pemahaman konsep Tuhan adalah sejarah pemahaman manusia itu sendiri tentang alam, dirinya dan sesama.

Agama menjadikan idea keTuhanan, sifat- sifat mulia, kasih sayang, keteguhan, kepedulian, keadilan yang diusung oleh mereka yg menginginkan suatu lingkungan yg tertata dizamannya.

Kalau mau dijejaki secara interdisipliner, kita akan menyadari bahwa agama mengacu pada ‘suatu makna’ di balik dirinya. “sesuatu” ini yang sukar dijelaskan oleh kata-kata yang gamblang. Namun para ‘Fanatis’ begitu mudahnya mem-bypass dan menjadikan ritual, dogma sebagai kebenaran final, kebenaran dalam dirinya, sehingga berkubang di situ dan tidak mampu menembus makna di balik itu. Makna Ke maha kuasaan Tuhan akan seluruh alam dan makhluknya. Think again

Advertisements

Trims for Your Comment..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s