The Philosophy of Existensialism

                          
“Eksistensi” dengan kata dasar “exist”. Kata ”exist” itu sendiri adalah bahasa latin yang terdiri dari dua kata yaitu ”ex” yang berarti keluar, dan “st (sistare)” artinya berdiri. Jadi eksistensi adalah berdiri dengan keluar dari diri sendiri. Aliran eksistensialisme mempersoalkan keberadaan manusia, dan keberadaan itu dihadirkan lewat kebebasan. Eksistensialisme juga merupakan suatau aliran yang menekankan pada manusia, dimana manusia dipandang sebagai suatu makhluk yang harus bereksistensi, mengkaji cara manusia berada di dunia dengan kesadaran. Jadi dapat dikatakan pusat renungan eksistensialisme adalah manusia konkret. Eksistensialisme menyatakan bahwa  cara berada manusia dan benda lain tidaklah sama. Manusia menyadari dirinya berada di dunia, mengerti gunanya pohon, batu dan salah satu diantaranya ialah ia mengerti bahwa hidupnya mempunyai arti. Artinya adalah bhwa manusia adalah subyek. Subyek artinya menyadari. Barang-barang yang disadarinya disebut obyek. Ada beberapa ciri eksistensialisme, yaitu selalu melihat cara manusia berada.
                             Point penting dari teori eksistensialisme adalah bahwa manusia merupakan kajian sekaligus aktor utamanya so, saatnya bebas bereksperimen. Tokoh yang akan saya bangkitkan dalam tulisan ini adalah Gabriel Marcel, seorang filsuf eksistensial yang tersohor, juga menulis buku The Philosophy of Existensialism. Baginya, yang membuat seseorang dapat menghidupkan filsafat adalah PENGALAMAN. Belajar filsafat hanya akan melelahkan manusia. Konsep-konsepnya abstrak, dan tidak berada pada diri manusia itu sendiri. Filsafat akan menjadi lebih hidup jika filsafat itu didasarkan pada pengalaman. Jika orang ingin mendekati filsafat, semua topik yang diamati harus dianggap sebagai misteri, bukan masalah. Misalnya: putus cinta. Putus cinta jangan dianggap sebagai masalah. Anggaplah itu sebagai misteri tentang cinta atau misteri tentang putus cinta. Jika ini dirumuskan dengan pemikiran filosofis, maka ini akan membuat filsafat itu hidup. Inilah yang disebut dengan eksistensial! Saat eksistensi kita terancam karena sebuah pengalaman, itulah sumber teori eksistensial yang sesungguhnya. Manusia yang dikaji dan manusia yang mengkaji. Tentunya hak kemanusiaan akan dijamin sepenuhnya dalam hal ini (lol).
                             Mari masuk ke studi kasus, bukankah Anda punya pengalaman yang juga menggetirkan eksistensi Anda? Misalnya divonis, dilabel, diancam, diragukan, dipercaya, kadang kala menggetirkan, bukan? Daripada menganggapnya sebagai masalah, cobalah untuk menganggapnya sebagai sebuah misteri yang akan diungkapkan. Cobalah mengungkap misterinya! Tulislah! jadikan sebuah teori paling tidak secara pribadi berpengaruh bagi mental anda. Binggo! Anda telah membuat filsafat dan segala ilmu menjadi hidup. Anda telah eksis!
Advertisements

Trims for Your Comment..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s