Fool-Osophy?

                   “Fool-osophy?” Mungkin terdengar seperti sebuah judul lagu (Jamiroquai), tidak ada niat untuk promosi but, kenyataannya memang terdengar lumayan bagus secara lirik maupun musikalitas (*forget it). Sebenarnya istilah foolosophy pantas dinobatkan kepada seluruh makhluk didunia ini yang merasa telah mengendalikan fikirannya padahal sejatinya sedang dikendalikan oleh fikirannya, kepada orang – orang yang merasa berkepentingan penuh dengan sebuah gagasan dari hasil pemikiran orang lain, juga kepada orang – orang yang menganggap kelangsungan hidupnya terancam oleh fikiran orang lain, ditambah lagi orang – orang yang menjudge konyol proses berfikir orang lain yang dia sendiri tidak dirugikan dengan kekonyolan yang dianggapnya konyol tersebut, bahkan ada yang berusaha berfikir untuk tidak memikirkan sesuatu yang tidak diinginkannya untuk difikirkan, how fool.

‘                     Pada dasarnya, berfikir adalah satu – satunya kegiatan manusia yang tidak terprotokol. Tidak akan ada barometer yang menentukan label dari isi fikiran seseorang ( lupakan sejenak pendekatan theologis ). Tentunya akan menjadi berbeda saat sebuah impuls dari pemikiran di aplikasikan secara nyata dalam bentuk apapun yang teranalisa so, the value of thinkin’ terimplikasi dalam tindakan, ucapan, respon, gerak, sikap, keputusan, dan parahnya judgement akan berhamburan ke arah buah karya humanisme tersebut. Bagaimana tidak, saat kita serasa seperti kebakaran jenggot saat seseorang berteriak “Ibadah tidak menjamin orang untuk menjadi baik”. Padahal mungkin saja beberapa kali kita telah sependapat dengan pemikiran tersebut tapi memilih untuk tidak jujur. Bayangkan berapa kali kita memandang sinis pihak yang menyatakan “Tuhan itu hanya hasil fikiran manusia, saya tidak menemukannya dimanapun!”. Lantas kita merasa lebih baik dari orang yang berfikiran demikian? orang yang paling tidak dengan jujur mengungkapkan fikiran luarbiasanya dan akhirnya terlihat dungu bagi manusia lain? orang yang setidaknya telah berupaya mencari jawaban akan sosok Tuhannya dan dengan keterbatasannya tidak berhasil?. Lalu tanyakan pada diri kita, seberapa sering Tuhan berada dalam pikiran kita? Atau mungkin fikiran kita hanya penuh sesak oleh keburukan makhluk lain. how fool…

Advertisements

Trims for Your Comment..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s