Kita & “Tetangga Sebelah”

Persaudaraan“… Tapi kan ini lebaran, Pa. Ucok kan non-muslim”
“Ucok itu protestan, bukan non-muslim”
“Eh??”
“Ya dijamulah, mereka Tetangga-mu”

Sekedar kutipan percakapan di masa lalu. Pada saat itu saya bahkan belum faham kalau nama Ucok [ dan adiknya; Butet ] bukanlah nama sebenarnya. Continue reading

Nasi [ Basi ]-onalisme

… Jangan percaya
pada berita mass media cetak
dan elektronika!
Penguasa berteriak-teriak setiap hari.
Nasionalismenya mirip Nazi – Wiji Thukul

Continue reading

Benarkah Itu Einstein? Ciyus?

Ini mungkin akan terdengar familiar. Sebuah kisah tentang perdebatan seorang anak yang konon jenius dengan seorang profesor yang konon seorang atheis. Kalo belum pernah tau, Baca disini- . Singkatnya, diceritakan sang professor membuka diskusi di kelas dengan pertanyaan : ‘Apakah Tuhan menciptakan segalanya? dan Apakah Tuhan baik? Lalu mengapa Ia menciptakan kejahatan dan kesengsaraan? Artinya ia tidak baik’ Seorang anak yang jenius lalu menjawab : ‘Kejahatan dan kesengsaraan tidak ada, itu hanyalah kondisi ketiadaan Tuhan dalam hati manusia’
Hmm.. menarik.

Lalu Profesor kembali bertanya : ‘Jika Tuhan ada, pernahkah kalian mengetahui keberadaanNya? Kalau tidak, berarti Tuhan itu tidak ada’  Si anak jenius kembali beraksi. Ia melontarkan pertanyaan balasan : ‘Adakah yang pernah melihat otak professor? Jika tidak, berarti professor tidak punya otak’
Wow! Counter attack, rasain lo prof, dasar atheis.

Kemudian cerita tersebut ditutup dengan manis : ‘Dan anak jenius itu adalah Albert Einstein‘ . Seluruh semesta-pun bersorak bergembira [ Mungkin termasuk kita ]

Well, bagaimana menanggapi kebenaran ceritanya? Sempurnakah permainan logika anak yang konon jenius tersebut? Dan benarkah dia Einstein? Let’s thinking?

Continue reading

[ Sci-poem ] Unromantic

Aku mulai lelah memetaforakan bulan dan segala ragam bintang. Nyatanya partikel asa-mu dan asa-ku tak lagi memberi harapan bereaksi secara fusi. Adakah harapan memang begitu korosif?

Continue reading

Bebaskan Ego [ Existensialism II ]

Maaf jika bahasan tentang kebebasan agaknya terkesan basi mengingat teori ini telah sejak lama dipaparkan secara fenomenal di masa lalu. Katakanlah Steiner dengan konsep free-will-nya, Sartre dengan lubang kunci-nya dan Foucault dengan Panoptikon-nya, bahkan Pramoedya melalui tetralogi pulau buru-nya pun menyiratkan konsepsi kebebasan. Gawat juga saat harus mempertahankan konsistensi dimana pada Paradox I faham kebebasan jelas – jelas saya anggap prinsip yang paradox. Saya akan usahakan  ngeles se-efektif mungkin ^^. Apanya yang bebas saat Sartre latah dengan tetap menyertakan sosok Tuhan sebagai (salah satu) pengintip? Mengapa Pram bersembunyi dibalik tokoh sentral Minke sebagaimana Nietzsche yang menjelang akhir hidupnya condong ke karya sastra dan berlindung dibalik Zarathustra?

‘Kebebasan tidak akan pernah menjadi bebas sebebas – bebasnya karena pada puncaknya ia pun dibatasi dirinya sendiri’  asek!

Continue reading

Paradox Combo ( Part II )

Sekedar melanjutkan bahasan bulan lalu Hikmah Sebuah Paradox, bedanya jika pada part I hanya pengembangan teori tunggal verbal logic Epimenides, sekarang saya akan meng-combo tiga teori paradox sekaligus. Jangan khawatir, kali ini saya ga akan bawa – bawa filosofi keTuhanan dan konsep theologi segala macam. Cukup sudah label sesat, sekuler, kafir, plural, murtad yang diberikan oleh pihak yang ( mungkin ) tidak membaca artikel hingga selesai, atau mungkin hanya membaca judul. Salahkah hamba mencari Tuhannya? Semoga kita bukan termasuk golongan makhluk yang penuh prasangka dan saling menghujat. Perihal hati, surga, neraka biarlah Tuhan yang menilai *Malah curcol*

Well, untuk part I sudah terjawab di Untuk Wanita bahwa mustahil manusia mewakili sifat selalu bohong dan /atau selalu jujur, kemudian saat Tuhan diyakini maha kuasa artinya Ia pun mutlak berkuasa untuk mebatasi / mengatur kekuasanNya sendiri. Lantas bagaimana saat Pinokio berkata “Hidungku akan memanjang” lalu hidungnya benar – benar memanjang? Apakah artinya Ia Jujur sekaligus berbohong? Sudahlah pinokio kan dongeng, case closed😛 Are you ready for another paradox? Let’s thinking!

Continue reading

The Last Prompt #8 K.E.N.D.I

kendiiiiiiArka tersandar diruangannya. Misteri tewasnya Mr. Momo, owner perusahaan kendi di Pantai Cilincing dua hari yang lalu terasa begitu membebaninya. Bermacam spekulasi membayangi fikirannya. Bukan hanya tentang metode pembunuhan, tapi juga tentang pesan terakhir yang ditinggalkan korban di pasir pantai. Sebuah kata sederhana yang ia coba uraikan menjadi fakta, Kendi.

“Kendi, kendi.. ah sial!” Arka begitu kesal hingga tak menyadari kalau seorang wanita sejak tadi telah duduk disampingnya. Mazhea, gadis jelita yang menjadi asisten sekaligus teman baiknya. Tepatnya satu – satunya teman baiknya.

“Itu natural kok. Mr. Momo udah nganggep kendi kaya anak sendiri. Cobalah untuk tidur”
“I know, tapi sebegitu berharganya kah, hingga di akhir hidupnya pun isi kepalanya hanya kendi? Pasti ada sesuatu Zee. Kamu tidurlah duluan” Continue reading